بسم الله الرحمن الرحيم

Selasa, 17 Februari 2015

3.UTSMAN BIN AFFAN R.A.

Syekh Abu Nashr as-Sarraj - rahimahullah -berkata: Adapun Utsman bin Affan r.a. maka ia memiliki kekhususan dalam hal tamkin(kekokohan).Sedangkan tamkin adalah tingkatan tertinggi dari tingkatan orang-orang yang telah mencapai kebenaran hakiki(mutahaqqiqin).
Sementara hal-hal yang berkaitan dengan pribadi Utsman yang dijadikan referensi orang-orang ahli hakikat dari para Sufi adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh sebagian orang-orang terdahulu,bahwa Utsman ditanya tentang boleh tidaknya seseorang masuk dalam kelonggaran (sa'ah).Maka ia menjawab, "Itu tidak dibenarkan kecuali hanya untuk para nabi dan orang-orang yang jujur(shiddiqin)." Sementara yang dimaksud dalam sa'ah~dimana ia merupakan salah satu dari kondisi spiritual orang-orang yang jujur ~adalah masuk pada sesuatu namun ia tetap berada di luar,ia bersama sesuatu namun ia terpisah dari sesuatu Itu.
Sebagaimana yang pernah ditanyakan kepada Yahya bin Mu'adz tentang sifat orang arif, kemudian ia menjawab,  "Orang arif adalah yang berada di tengah-tengah manusia namun ia terpisah dari mereka."
Ibnu al-Jalla - rahimahullah - ditanya tentang seorang fakir yang jujur,maka ia menjawab, "Ia terlibat kedalam segala sesuatu demi orang lain dan bukan untuk dirinya sendiri."
Ini adalah sifat dari kondisi spiritual Utsman r.a. sebab ada riwayat yang menerangkan bahwa ia pernah berkata,"Andaikan aku tidak khawatir ada celah-celah dalam Islam yang perlu disumbat dengan harta ini,tentu aku tidak akan mengumpulkannya."
Sementara tanda-tanda seseorang yang memiliki kondisi spiritual ini berinfak adalah lebih ia senangi daripada mengekang dan menyimpan harta,pengeluaran lebih diutamakan daripada pendapatan, sebagaimana Utsman r.a. menyiapkan bekal untuk pasukan kaum muslimin dan membeli sumur Raumah. Sehingga Rasululla saw.bersabda, "Tidak akan membahayakan Utsman apapun yang dilakukannya setelah ini." (H.r. Tirmidzi dari Abdurrahman bin Dhabab, dan Bukhari dari Abdurrahman as-Sulami).
Diriwayatkan bahwa Utsman pernah mengirim Abu Dzar al-Ghifari r.a. kantong berisi uang sebanyak seribu dirham yang diserahkan lewat seorang budaknya. "Jika ia mau menerima uang ini maka engkau merdeka hanya karena Allah swt," kata Utsman kepada budaknya.
Ini menunjukkan bahwa harta kekayaanya, ia siapkan untuk kepentinga-kepentingan seperti ini tidak mungkin bisa dilakukan kecuali oleh hamba yang telah mencapai ma'rifat paripurna.
Aku mendengar Ibnu Salim - rahimahullah - berkata,"Seseorang tidak bisa memasuki wilayah sa'ah kecuali ia seorang hamba yang tahu izin Allah.Apabila ia diizinkan untuk menginfakkan hartnya, maka ia akan menginfakkannya sesuai dengan apa yang diizinkan-Nya.Dan jika ia menyimpan dan tidak menginfakkannya, maka ia menyimpannya sesuai dengan apa yang diizinkan-Nya pula.Sementara apa yang ia lakukan terhadap harta kekayaan yang diberikan Allah kepadanya adalah demi memenuhi hak-hak orang lain dan bukan untuk kesenangan dan kepentingan dirinya.Ia hanya ibarat seorang wakil yang diperintah untuk mengatur dan menggunakan harta pemilik modal dengan penggunaan yang sesuai dengan izin pemiliknya.Ini tentu saja merupakan posisi yang sangat sulit.Sementara banyak orang yang salah memahaminya,dengan pengakuannya telah mencapai tingkatan kondisi spiritual ini,padahal sebenarnya mereka adalah para pecandu dan hamba dunia.Mereka menggap dirinya termasuk golongan orang-orang yang telah mencapai tingkatan kondisi spiritual tersebut."
Diriwayatkan dari Sahl bin Abdullah - rahimahullah - yang mengatakan,"Mungkin seorang hamba memiliki dunia (harta) namun ia malah merupakan orang yang paling zuhud di zamannya."Kemudian ia ditanya, "Seperti siapa dia?" Ia menjawab, "Sebagaimana Umar bin Abdul Aziz."
Adalah Umar bin Abdul Aziz yang saat memerintah bisa membedakan antara minyak (bahan bakar) lampu untuk pribadinya dengan minyak yang untuk kepentingan umum.Ia meletakkan lampu penerangannya di atas tiga bambu,padahal pada saat itu kekayaan dunia berada di tangannya.
Dari sini akan terjadi kekeliruan bagi orang yang keliru yang mengutamakan kaya daripada miskin.Dari situ bisa diambil kesimpulan,bahwa mereka bukanlah orang-orang yang kaya dengan kekayaan duniawi dan juga bukan orang-orang yang fakir karena tidak memiliki harta.Sebab mereka merasa cukup dengan Allah dan sangat butuh kepada-Nya.
Dan diantara hal-hal yang berkaitan dengan pribadi Utsman r.a. yang dijadikan referensi oleh para ahli hakikat,adalah riwayat yang menceritakan,bahwa ia membawa seikat kayu bakar dari kebunnya.Padahal ia banyak memiliki budak (pembantu) .kemudian dikatakan kepadanya, "Andaikan pekerjaan ini Anda serahkan pada salah seorang budak Anda tentu bisa."Kemudian ia menjawab,"Aku bisa saja melakukan hal itu.Namun aku ingin mencoba diriku sendiri,apakah ia tidak mampu melakukan pekerjaan ini?Atau ia enggan melakukannya?"_ atau sebagaimana yang ia katakan.
Ini semua menunjukkan bahwa ia tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kenikmatan.Ia berusaha melatih dirinya supaya tidak cendrung pada harta yang dimilikinya.Sebab dengan harta ini ia tidaklah sama dengan orang lain.
Diriwayatkan,bahwa ia membaca tujuh surat yang panjang dalam satu rakaat di belakang Maqam Ibrahim.Dan di malam hari ia menutupi kepalanya dengan cadar.
Diriwayatkan pula,bahwa ia berkata,"Sejak saya berbaiat (janji setia) kepada Rasulullah,saya tidak pernah berangan-angan,tidak pernah tertekan dan tidak pernah menyentuh kemaluanku dengan tangan kana."(H.r. Ibnu Majah).
Salah satu yang menunjukkan bahwa ia memiliki keistimewaan dengan tamkin (kekokohan),keteguhan dan istiqomah ialah saat ia mau dibunuh ia tidak beranjak dari tempatnya semula.Ia juga tidak mengizinkan kepada seorang pun  untuk memerangi lawannya.Ia juga tidak meletakkan Mushaf (al-Qur'an) dari pangkuannya sampai ia terbunuh.Darah pun mengalir, sementara percikan darah jatuh pada Mushaf di ayat:
فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم
"Maka Allah akan memeliharamu dari mereka,Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Q.s. al-Baqarah: 137).
Sedangkan tamkin (kekokohan) adalah kondisi spiritual yang sangat tinggi dan mulia.
Aku mendengar Abu Amr bin 'Ulwan berkata: Pada salah satu malam saya mendengar al-Junaid - rahimahullah berkata dalam munajatnya kepada Allah, "Ya Tuhanku apakah Engkau ingin menipuku dengan kedekatan-Mu menjadi jauh dengan-Mu,ataukah dengan 'sampai kepada-Mu' Engkau ingin memutusku jauh dari-Mu.Tidak mungkin!!." Tidak Mungkin!!"
Aku bertanya kepada Abu Amr, "Apa makna munajat al-Junaid, 'Tidak mungki! Tidak mungkin!'.Ia menjawab, ""Itulah yang disebut tamkin."
Diriwayatkan dari Utsman bin Affa, yang berkata,"Aku temukan kebaikan itu ada dalam empat perkara:Pertama, berusaha mencintai Allah dengan melakukan hal-hal yang sunnah; Kedua, sabar atas ketentuan hukum Allah; Ketiga, ridha dengan takdir Allah Azza wa Jalla; dan keempat, malu karena selalu dilihat Allah swt."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

trimakasi atas kunjungan nya
mudah mudahan taufik dan hidayah allah selalu menyertai kita