بسم الله الرحمن الرحيم

Jumat, 22 Agustus 2014

4.ALI BIN ABI THALIB

 

Syekh Abu Nash as-Sarraj – rahimahullah – berkata: Ada pun Ali bin Abi Thalib, maka saya pernah mendengar Ahmad bion Ali al-Wajihi berkata: Aku mendengar Abu Ali ar-Rudzabari berkata: Aku mendengar al-Junaid berkata, “Semoga ridha Allah senantiasa diberikan kepada Amirukl Mukminin Ali r.a. – Andaikan ia tidak disibukkan dengan banyak peperangan niscaya ilmunya yang sangat banyak memberikan makna akan bermanfaat bagi kita. Ia adalah seorang yang diberi Ilmu Laduni.Sedangkan Ilmu Laduni adalah ilmu yang menjadi kekhususan Nabi Khidir a.s. Allah swt. Berfirman:

وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

‘Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami’.” (Q.s. al-Kahfi: 65).

Anda tentu telah mendengar kisah Nabi Khidir dengan Musa a.s. dan jawaban Khidhir a.s.,

إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

“Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku.” (Q.s. al-Kahfi: 67).

Dari sini kemudian terjadi kesalah pahaman bagi orang yang salah dalam menempatkan derajat kewalian (wilayah) lebih tinggi dari derajat kenabian (nubuwwah). Insya Allah kami akan membahas masalah ini pada bab yang menjelaskan tentang jawaban atas orang-orang yang berpendapat demikian.

Amirul Mukminin Ali r.a. memiliki kekhususan di antara para sahabat yang lain dalam berbagai makna yang cukup tinggi, isyarat-isyarat yang lembut, kata-kata yang penuh hikmah, ungkapan dan penjelasan tentang Tauhid,ma’rifat,keimanan, keilmuan dan lain-lain,serta akhlak mulia yang dijadikan referensi orang-orang ahli hakikat dari kaum Sufi.Di mana mereka berperilaku dengan akhlak tersebut. Dan jika kami sebutkan secara keseluruhan tentu kitab ini akan menjadi sangat tebal, sehingga kami hanya akan menyebutkannya sekilas dan ringkas agar tidak terlalu panjang.

Di antaranya adalah jawaban dari pertanyaan yang pernah diberikan kepada Amirul Mukminin Ali r.a., “Dengan apa Anda mengenal Tuhan?” Ia menjawab, “Dengan sesuatu yang Allah kenalkan Diri-Nya kepadaku, yang tidak ada bentuk apa pun yang menyerupai-Nya, tidak bias dipahami oleh indra, tidak bias dikiaskan dengan manusia. Dia dekat dalam kejauhan-Nya dan jauh dalam kedekatan-Nya. ‘Di atas’ segala sesuatu, namun tidak bias dikatakan bahwa sesuatu berada ‘di bawah-Nya’. ‘Di bawah segala sesuatu, namun tidak biasa dikatakan, bahwa sesuatu berada berada ‘di bawah-Nya’. ‘Di bawah’ segala sesuatu , namun tidak bias dikatakan, bahwa sesuatu berada ‘di atas-Nya’. ‘Di depan’ segala sesuatu, namun tidak bias dikatakan,bahwa sesuatu berada ‘di depan-Nya’. ‘Masuk’ dalam segala sesuatu, numun tidak seperti sesuatu dan tidak berasal dari sesuatu. Mahasuci Dzat Yang demikian Wujud-Nya, sementara yang lain tidak demikian.”

Amirul Mukminin Ali r.a. berkata dalam khotbahnya, “Dia menciptakan segala sesuatu, Dia bukan dari sesuatu yang bersama-Nya,tidak pula dari sesuatu yang sejajar.Tidak juga dari sesuatu yang dia serupakan. Sesungguh setiap pencipta maka ia berasal dari sesuatu yang Dia ciptakan.Setiap orang berilmu pasti berawal dari ketidaktahuan. Sedangkan Allah swt. Mahatahu yang tidak bermula dari ketidaktahuan sebelumnya.”

Dan ucapannya tentang keimanan sebagaimana yang disebutkan oleh Amr bin Hindun, “Saya pernah mendengar Ali r.a. berkata, ‘Keimanan itu akan tampak berkilau putih dalam hati. Setiap kali keimanan bertambah, maka hati akan semakin bertambah putih. Dan ketika keimanan itu telah sempurna maka hati akan putih. Sementara kemunafikan akan tampak warna hitam dalam hati. Jika kemunafikan semakin bertambah maka hati akan semakin hitam.Dan jika kemunafikan itu telah sempurna maka hati menjadi hitam pekat.”

Seorang laki-laki berdiri menghadap Ali bin Abi Thalib r.a. lalu ia bertanya tentang iman. Maka Ali menjawab, “Iman itu berdiri di atas empat tiang penyanggah: Sabar , yakin , adil dan jihad.” Kemudian ia menerangkan sifat sabar dalam sepuluh tingkatan (kedudukan spiritual). Begitu juga yakin, adil dan jihad. Masing-masing diterangkan dengan sepuluh tingkatan.

Jika ucapan ini benar berasal dari Ali , maka ia adalah orang yang pertama kali membicarakan tentang ahwal (kondisi spiritual) dan maqamat (kedudukan spiritual).

Ditanyakan kepada Amirul Mukminin Ali r.a., “Siapakah orang yang paling selamat dari semua aib?” Ia menjawab, “Yaitu orang yang menjadikan aklalnya sebagai pemimpinnya, kewaspadaan sebagai perdana mentrinya, nasihat sebagai kendalinya,sabar sebagai panglimanya, berpegang teguh dengan ketakwaan sebagai pembelanya,takut kepada Allah sebagai teman duduknya, sementara ingat mati dan musibah sebagai penghiburnya.”

Ali r.a berkata dalam Hadis Kuhail bin Ziyad, “Diusini ada ilmu, andai saja ada yang sanggup menampungnya” .Ia menunjuk ke dadanya. Maka keistimewaan ali bin Abi Thalib di kalangan para sahabat tercermin pada kefasihan dalam penjelasan (Bayan) dan ungkapan tentang tauhid dan ma’rifat. Sedangkan kefasihan dalam penjelasan (Bayan) merupakan ilmu makna (ma’ani) yang paling sempurna dan kondisi spiritual paling tinggi.Allah swt. Berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ

“Dan( ingatlah ), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab, ‘Hendaklah kamu menjelaskan isi kitab itu kepada manusia’” (Q.s. Ali Imran: 187).

Dan firman-Nya:

“Ini (al-Qur’an) adalah penjelasan bagi seluruh manusia.” (Q.s. Ali Imran: 137)

Seorang hamba tidak akan mencapai kemuliaan yang sempurna kecuali memiliki kefasihan dalam penjelasan (bayan). Karena tidak setiap orang yang berakal itu mesti berilmu, dan tidak semua orang yang berilmu mampu menjelaskan dengan baik dan fasih. Maka apa bila seorang hamba dikaruniai akal, ilmu dan bayan (kemampuan menjelaskan dengan fasih ) berarti ia telah mencapai tingkat kesempurnaan.

Sudah cukup populer di kalangan para sahabat, bahwa ketika mengalami kesulitan dalam persoalan agama, mereka akan bertanya kepada Ali r.a. Kemudian Ali menjelaskan kesulitan yang mereka hadapi.

Diriwayatkan bahwa Ali r.a. berkata, “Cintailah orang yang Anda cintai dengan sewajarnya, mungkin di lain waktu ia menjadi orang yang Anda benci. Dan bencilah orang yang Anda benci dengan sewajarnya, mungkin dilain waktu ia akan menjadi orang yang Anda cintai.” (H.r. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, Mauquf).

Diriwatkan pula, “Bahwa Ali r.a. pernah berdiri di depan pintu kas Negara. Kemudian ia berkata, ‘Wahai emas dan perak tipulah selain diriku’.”

Disebutkan pula, bahwa ia pernah mengenakan gamis yang dibelinya dengan harga tiga dirham. Kemudian gamis tersebut dipotongnya dengan ujung jari jemarinya .

Dikisahkan bahwa ia pernah bekerja dengan mendapatkan upah satu mud kurma. Kemudian ia membawanya kepada Rasulullah saw.sehingga dimakannya.

Diriwayatkan pula,bahwa ia pernah berkata kepada Umar bin Khaththab r.a., “Jika engkau ingin bertemu dengan kedua sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakar, pent), maka tamballah baju gamismu, jahitlah sandalmu,perpendeklah angan-anganmu dan makanlah jangan sampai kenyang.”

Diriwatkan dari Umar yang pernah berkata, “Andaikan bukan karena Ali niscaya Umar akan celaka.”

Disebutkan bahwa setelah Ali terbunuh, maka putranya, Hasan naik diatas mimbar di Kufah dan berkata , “Wahai para penduduk Kufah sesungguhnya Amirul Mukminin Ali r.a. telah terbunuh di tengah-tengah kalian. Demi Allah, sungguh ia tidak meninggalkan harta kecuali hanya empat ratus dirham yang ia sisihkan untuk mengambil seorang pembantu yang melayaninya.” (H.r. ath-Thabrani dari Abu ath-Thufail).

Disebutkan, bahwa tatkala tiba waktu shalat,maka tubuhnya gemetar dan warna kulit wajahnya berubah.Kemudian ditanya, “Apa yang terjadi pada diri Anda wahai Amirul Mukminin?” Ali menjawab, “Saat ini telah tiba waktu di mana amanat yang pernah ditawarkan Allah pada langit, bumi dan gunung, namun mereka enggan menerimanya karena khawatir akan menghianatinya. Lalu amanat itu di terima manusia. Aku tidak tahu apakah aku biasa menunaikan amanat yang telah ku pikul ini dengan baik atau tidak?”

Ali berkata, “Aku dan diri (nafsu) ku ini ibarat seorang penggembala kambing, jika digiring dari satu sisi maka kambing-kambing itu menyebar lagi ke sisi yang lain.”

Dalam pribadi Ali banyak kondisi spiritual, akhlak dan prilaku yang sejenis dengan contoh-contoh di atas,di mana kaum Sufi yang memiliki hati bersih, ahli dalam memberi isyarat dan penghayatan hati nurani menjadikannya sebagai referensi.

Barang siapa meninggalkan dunia secara keseluruhan, keluar dari apa yang ia miliki, duduk di atas “tikar” kemiskinan dan menauhidkan Allah (tajrid) tanpa berkaitan dengan sebab selain Allah, maka imamnya adalah Abu Bakar.Dan barang siapa mengeluarkan sebagiannya dan menyisakan sebagian yang lain untuk kerabat dan keluarganya, untuk menyambung tali silaturrahim dan menunaikan hak-hak Allah,maka imamnya adalah Umar.Dan barang siapa mengumpulkan kekayaan karena Allah,tidak memberi dan memberi karena Allah, serta menginfakkannya karena Allah, maka imamnya adalah Utsman. Dan barang siapa tidak berkeliling di sekitar dunia, dan jika dikumpulkan untuknya tanpa ia mencari maka ia menolak dan lari darinya maka imamnya adalah Ali r.a.

Diriwayatkan dari Ali yang berkata, “Seluruh kebaikan itu dikumpulkan dalam empat perkara: Diam, berbicara, melihat dan bergerak. Maka setiap ucapan yang tidak mengandung dzikir kepada Allah maka tidak berarti apa-apa (sia-sia). Setiap diam yang tidak untuk merenung (tafakur) berarti kelengahan.Setiap penglihatan yang tidak untuk mencari pelajaran darinya maka suatu kelalaian.Sedangkan setiap gerakan yang tidak untuk beribadah kepada Allah berarti suatu kekosongan. Semoga Allah memberi rahmat kepada hamba yang menjadikan ucapannya sebagai dzikir, diamnya sebagai perenungan,melihatnya sebagai pelajaran, dan gerakannya untuk beribadah, sementara manusia merasa aman dan selamat dari kejahatan lidah dan tangannya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

trimakasi atas kunjungan nya
mudah mudahan taufik dan hidayah allah selalu menyertai kita