بسم الله الرحمن الرحيم

Jumat, 08 Agustus 2014

Bagian Kelima PARA SAHABAT R.A

PARA SAHABAT  RASULULLAH SAW. DAN MAKNANYA

Allah swt. berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ 

Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (Q.s. at-Taubah: 100).

Secara lahiriah, kata as-Sabiqun (orang-orang terdahulu) dalam ayat tersebut mencakup seluruh orang yang masuk Islam pertama kali dengan mendapatkan ridha Allah.Ayat tersebut juga memberikan legimitsi, bahwa mereka juga ridha kepada Allah swt. Sementara itu, orang-orang terdahulu atau terdepan adalah orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabun) dengan nash ayat,sebagaimana yang telah kami sebutkan pada Bagian Kedua tentang kekhususan orang-orang yang berperilaku baik dari para calon penghuni surga.

Adapun firman Allah, “Allah ridha kepada mereka,dan mereka pun ridha kepada Allah.” MAka di ayat lain Allah berfirman:

وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ

Dan ridha Allah adalah lebih besar.” (Q.s. at-Taubah: 72)

Dzun-Nun al-Mishri – rahimahullah – berkata, “Yakni lebih besar dan lebih dahulu ketika Dia berfirman, ‘

Allah ridha kepada mereka ,dan mereka pun ridha kepada Allah.’

Tentu Dia lebih dahulu tahu.Oleh karenanya Allah mengharafkan mereka ridha kepada-Nya dan Dia juga ridha kepada mereka, sehingga mereka akhirnya bisa ridha kepada-Nya”.

Rasulullah bersabda:

اصحابي كالنجوم بايهم اقتديتم اهتديتم 

Sahabat sahabatku laksana bintang kemintang,kepada siapa pun diantara mereka,kalian mengikutinya maka kalian akan mendapatkan petunjuk.”  (H.r. Baihaqi dan ad-Dailami dari Ibnu Abbas).

Allah,dalam suatu ayat al-Qur’an bersumpah dengan bintang (Q.s. an-Najm: 1) dari benda-benda langit atau (planet). Bintang adalah benda langit yang bisa dijadikan sebagai petunjuk di malam hari,baik di darat maupun di laut.Sebab bintang kelihatan lebih besar dan memancarkan cahaya terang. Oleh karenanya Rasulullah saw.mengibaratkan mereka laksana bintang- kemintang dan tidak mengibaratkannya dengan planet-planet.Karena planet (kaukab) terlihat kecil sehingga tidak bisa dijadikan sebagai alat petunjuk.Kemudian petunjuk itu akan didapatkan bila mengikuti mereka.Rasullah saw. tidak mengkhususkan seseorsng dari mereka untuk bisa diikuti,tapi bersifat umum. Maka dapat kita pahami, bahwa untuk bisa mendapatkan petunjuk dari mereka adalah bergantung pada peneladanan pada mereka dalam segala maknanya,baik lahir maupun batin.

Ada pun makna lahiriah maka sudah cukup populer di kalangan para ahli Fiqih dan ulama.Misalnya hukum pidana dan hukum halal haram.

Diriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau pernah bersabda,

Umatku yang paling belas-kasih kepada sesama umat adalah Abu Bakar r.a., yang paling kokoh dan kuat dalam memegang agama Allah adalah Umar r.a.,yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling tahu tentang ilmu faraidh (hukum waris) adalah Zaid bin Tsabit r.a. yang paling paham tentang hukum halal-haram adalah Mu’adz bin Jabal r.a. yang paling baik bacaannya adalah Ubay bin Ka’ab r.a., yang paling adil memberikan keputusan hukum adalah Ali r.a..Sedangkan sahabatku Abu Dzar r.a. adalah orang yang dialek bicaranya memiliki ketajaman dan kebenaran.” (H.r. Ahmad, Tirmidzi dari Anas,  ath-Thabrani dari Jabir, dan Ibnu Adi dari Ibnu Umar).

Adapun yang menyangkut masalah batin,maka kami akan memulainya dengan apa yang disabdakan rasulullah saw.:

                                        اقتدوا باللذين من بعدي : ابي بكر وعمر رضي الله عنهما 

Ikutilah dua orang setelahku yaitu : Abu Bakar dan Umar r.a.” (H.r. Tirmidzi dari Hudzaifah, Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu Abd dari Anas).

Sementra kami akan memulainya dengan Abu Bakar r.a. lebih dahulu kemudian Umar r.a.

Sebagaimana berita yang saya terima dari Abu Uthbah al-Halwani – rahimahullah – yang pernah berkata, “Bolehkah aku memberi tahu kalian tentang kondisi spiritual para sahabat RAsulullah? Pertama, bertemu dengan Allah adalah lebih mereka senangi daripada hidup di dunia. Kedua,mereka tidak pernah takut musuh,baik mereka dalam jumlah sedikit maupun banyak.Ketiga, mereka tidak pernah takut miskin dunia dan selalu yakin, bahwa Allah selalu memberinya rezeki.Keempat,jika dilanda wabah penyakit,mereka tidak lari dari tempat mereka tinggal sampai Allah memutuskan nasibnya.Mereka sangat khawatir dengan kematian dalam makna khawatir yang sebenarnya.”

Dikisahkan dari Muhammad bin Ali al-Kattani – rahimahullah – yang berkata, “Orang-orang dalam  kurun pertama Islam selalu bermuamalah dengan agama sehingga agama itu menipis.Kemudian pada kurun kedua mereka bermuamalah dengan wafa’ (kesetiaan dan tepat janji),sehingga kesetiaan itu pun sirna.Kemudian pada kurun ketiga mereka bermuamalah dengan muru’ah (kesatria) sehingga kesatria itu pun lenyap.Pada kurun keempat mereka bermuamalah dengan rasa malu,sampai akhirnya rasa malu itu pun hilang. Pada akhirnya manusia bermuamalah dengan landasan rasa suka dan kekhawatiran.” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

trimakasi atas kunjungan nya
mudah mudahan taufik dan hidayah allah selalu menyertai kita