بسم الله الرحمن الرحيم

Tampilkan postingan dengan label PERBEDAAN PENDAPAT DALAM MEMBERIKAN JAWABAN BERBAGAI MASALAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERBEDAAN PENDAPAT DALAM MEMBERIKAN JAWABAN BERBAGAI MASALAH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Februari 2014

3.Hakikat

3.Hakikat

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata: Ja'far telah memberi tahu saya bahwasanya al-Junaid pernah berkata: Saya mendengar Sari as-Saqathi berkata ketika ia menerangkan sifat para ahli hakikat,

"Cara makan mereka seperti makannya orang sakit dan tidur mereka seperti orang yang tenggelam."

Al-Junaid -- rahimahullah -- pernah ditanya tentang hakikat,maka ia berkata,

"Saya mengingatnya,maka saya tinggalkan ini dan ini."

Sementara itu Abu Turab mengatakan,

"Ciri-ciri hakikat ialah berbagai musibah."

Namun yang lain mengatakan,

"Ciri-ciri hakikat ialah hilangnya musibah."

Diceritakan dari Ruwaim -- rahimahullah -- yang mengatakan,

"Hakikat yang paling sempurna adalah dibarengi ilmu."

Saya mendengar al-Wajihi berkata,

"Ada tiga jenis hakikat:hakikat bersama ilmu,hakikat yang ilmu bersamanya dan hakikat tanpa ilmu."

Sementara itu Abu Bakar az-Zaqqaq -- rahimahullah -- mengatakan: Saya pernah berada di gurun pasir at-Tih wilayah bani Israel,kemudian dalam hati saya terbersit, bahwa ilmu hakikat itu menyalahi ilmu syari'at.Ternyata secara tiba-tiba ada seseorang di bawah pohon yang ada di semak belukar berteriak,,

"Hai Abu Bakar,setiap hakikat yang menyalahi syariat adalah kufur."

Ditanyakan kepada sebagian kaum Sufi -- saya kira ia adalah Ruwaim,dan hanya Allah swt.Yang Mahatahu,

"Bilakah seorang hamba bisa merealisasikan sifat kehambaannya?

"Maka ia menjawab, "Yaitu apa bila ia bisa selamat mengendalikan dari dirinya kepada Tuhannya dan terlepas dari usaha dan kekuatannya sendiri serta mengetahui bahwa segalanya adalah untuk-Nya dan dengan-Nya."

Ruwaim -- rahimahullah -- berkata,

"Hakikat yang paling benar ialah apabila dibarengi dengan ilmu."

Sementara itu al-Junaid -- rahimahullah -- mengatakan,,

"Hakikat tidak mau meninggalkan pendapat yang bisa ditakwil dalam hati."

Al-Muzayyin al-Kabir mengatakan,

"Yang bisa dicapai oleh para ahli hakikat dalam hakikat-hakikat mereka adalah, bahwa Allah swt.tidak pernah hilang lalu dicari,tidak pula yang punya batas lalu bisa dicapai.Barang siapa menemukan suatu yang wujud (maujud) maka ia telah tertipu dengannya.Sebab sesuatu yang wujud menurut kami adalah mengetahui kondisi dan menyingkap ilmu dengan tanpa kondisi."

Saya mendengar al-Husain bin Abdullah ar-Razi -- rahimahullah -- mengatakan:Abdullah bin Thahir al-Abhari ditanya tentang hakikat,maka ia menjawab,

"Seluruh hakikat adalah ilmu."Kemudian ia ditanya tentang ilmu,maka ia menjawab,"Seluruh ilmu adalah hakikat."

Diceritakan dari asy-Syibli -- rahimahullah -- yang mengatakan,

"Lisan (bahasa) itu ada tiga macam: Bahasa ilmu,bahasa hakikat dan bahasa haq.Maka bahasa ilmu adalah sesuatu yang bisa kita terima melalui perantara.Sedangkan bahasa hakikat adalah sesuatu yang disampaikan Allah swt.kepada rahasia hati dengan tanpa perantara.Sementara bahasa haq tidak memiliki cara apa pun."

Diceritakan dari Abu Ja'far al-Qurawi -- rahimahullah -- yang mengatakan,

"Hakikat kemanusiaan (insaniyyah)adalah manakala manusia lain tidak merasa kesal dan sakit karena Anda.Sebab hakikat nama itu pada jati dirinya sendiri,dimana segala sesuatu merasa simpati dengan Anda."

Sebagian kaum Sufi ditanya tentang hakikat wushul ("sampai"),maka ia menjawab,

"Yaitu ketika hilangnya akal (tidak rasional)."

Al-Junaid -- rahimahullah -- berkata,

"Sesungguhnya berbagai hakikat yang harus dan tujuan yang kokoh dan kuat tidak akan membiarkan suatu sebab bagi pelakunya kecuali akan memutuskannya,tidak suatu penghalang kecuali akan mencegahnya,tidak suatu penakwilan yang menimbulkan kesalah pahaman terhadap kebenaran yang di maksud kecuali akan menyingkapnya.Maka kebenaran (haq) bagi mereka hanya karena benarnya kondisi semata.Sedangkan kesungguhan dalam kontinuitas perjalanan adalah terbatas,dan pada bukti-bukti keilmuan adalah jelas,dan bukti-bukti kebenaran sangat jelas."

Sementara al-Wasithi -- rahimahullah -- berkata,

"Apabila hakikat-hakikat kebenaran sangat jelas."

Sementara al-Wasithi -- rahimahullah -- berkata,

"Apa bila hakikat-hakikat yang tersimpan itu tampak maka hakikat-hakikat yang dirahasiakan akan tertutup."

Kamis, 30 Januari 2014

7 DZIKIR

 7
DZIKIR

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata: Saya pernah mendengar Jawaban Ibnu Salim ketika ditanya tentang dzikir,

"Ada tiga macam bentuk dzikir: dzikir dengan lisan yang memiliki sepuluh kebaikan, dzikir dengan hati yang memiliki tujuhratus kebaikan dan dzikir yang pahalanya tidak dapat ditimbang dan dihitung, yaitu puncak kecintaan kepada Allah serta perasaan malu karena kedekatan-Nya."

Ibnu 'Atha' -- rahimahullah -- ditanya,

"Apa yang dikerjakan dzikir dengan berbagai rahasia?" Maka menjawab,"Dzikir kepada Allah,apabila sampai pada rahasia-rahasia hati dengan pancaran sinarnya maka dalam hakikatnya akn menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan (basyariyyah)dengan segala kepentingan nafsunya."

Sementara Sahl bin Abdullah -- rahimahullah -- mengatakan,

"Tidak setiap orang yang mengaku berdzikir (mengingat Allah )mesti orang yang ingat."

Sahl bin Abdullah juga pernah di tanya tentang makna dzikir,lalu ia menjawab,

"Ialah mengaktualisasikan pengetahuan,bahwa Allah senantiasa melihat Anda.Maka dengan hati Anda akan menyaksikan-Nya.Kemudian Anda memprioritaskan-Nya dari pada diri Anda sendiri dan seluruh kondisi spiritual Anda".

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata:Allah swt.berfirman:

"Maka berzdikirlah (dengan menyebut) Allah ,sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu,atau(bahkan)berdzikir lebih banyak dari itu."(Q.s. Al-Baqarah:200).

Di ayat lain Allah swt. berfirman:

"Berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya."(Q.s. Al-Ahzab:41).

Ayat ini lebih ringkas dari sebelumnya.Kemudian di ayat lain Allah juga berfirman:

"Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat(pula)kepadamu."
(Q.s. Al-Baqarah:125).

Oleh karenanya,orang-orang yang berdzikir kepada Allah swt.mempunyai tingkatan-tingkatan yang berbeda sebagai tingkatan-tingkatan perintah dzikir kepada mereka.

Sebagian guru Sufi ditanya tentang dzikir,maka ia menjawab,

"Dzat Yang diingat hanyalah satu,sedangkan dzikirnya berbeda-beda dan tempat hati orang-orang yang berdzikir juga berbeda-beda tingkatannya."

Landasan dasar dzikir adalah memenuhi panggilan al-Haq dari sisi kewajiban-kewajiban.

Sementara itu dzikir terbagi dua aspek:Pertama,at-tahlil(membaca kalimat tauhidLa Ilaha illal-lah),tasbih(membaca kalimat Subhanallah)dan membaca al-Qur'an.Kedua,mengingatkan hati tentang syarat-syarat mengingat kemaha esaan Allah swt.,Asma'(Nama-nama)dan sifat-sifat-Nya,kebaikan-Nya yang merata dan takdir-Nya yang berlangsung pada semua makhluk.Sehingga dzikirnya orang-orang yang takut adalah karena ingat ancaman-Nya,dzikirnya orang-orang yang tawakal adalah ingat akan kecukupan-Nya yang tersingkap oleh mereka,dzikirnya orang-orang yang selalu muraqabah adalah mengingat akan kadar yang ditunjukan Allah swt. pada mereka sedangkan dzikirnya orang-orang yang cinta adalah mengingat akan kadar penelitian mereka akan nikmat-nikmat Allah swt.

Asy-Syibli -- rahimahullah -- pernah ditanya tentang hakikat dzikir,maka ia menjawab,

"Ialah melupakan dzikir.Yakni melupakan dzikir Anda pada Allah swt. dan melupakan segala sesuatu selain Allah Azza wa Jalla."

lanjut pada judul berikut :MERASA CUKUP (KAYA)

Laman utama

2.Fana' dan Baqa'

2. FANA'dan BAQA'

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkatah:Abu Ya'qub an-Nahrajuri ditanya tentang fana' dan baqa' yang benar,maka ia menjawab,

"Fana' yaitu tidak melihat tindakan seorang hamba terhadap Allah Azza wa Jalla.Sedangkan baqa' dalam tetap melihat tindakan Allah swt.dalam koridor penghambaan.

Abu Ya'qub -- rahimahullah -- juga pernah ditanya tentang ilmu fana' dan baqa' yang benar,lalu ia menjawab,

"Ia selalu dibarengi dengan penghanbaan dalam fana' dan baqa',dan menggunakan ilmu ridha.Dan barangsiapa tidak dibarengi dengan penghambaan dalam fana' dan baqa' maka ia adalah orang yang sekedar mengaku."

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata,

"Fana' dan baqa' adalah dua istilah,dimana keduanya merupakan sifat bagi seorang hamba menauhidkan Allah.Dina ia hendak melangkah kejenjang yang lebih tinggi,dari tingkatan Tauhid umum menuju tinkatan khusus.Sedangkan makna fana' dan baqa' pada tinkat awal ialah fana' (hilang)nya kebodohan dengan baqa'(tetap)nya ilmu,hilang nya maksiat dengan tetapnya ketaatan,hilangnya kelalaian dengan tetapnya mengingat Allah,hilangnya melihat gerak gerik hamba dengan tetapnya pertolongan Allah swt. dalam ilmu yang telah ditentukan lebih dahulu."

Para guru Sufi terdahulu telah membicarakan masalah fana' dan baqa'.Misalnya,Samnun -- rahimahullah -- yang pernah mengatakan,

"Seorang hamba ketika dalam kondisi fana',maka ia dibawa (mahmul). Sedangkan ketika ia dalam keadaan dibawa (haml) maka ia didatangi (maurud).Inilah sifat-sifat yang menunjukan adanya sifat-sifat yang lain."

Ia mengatakan,

"Tingkatan awal dari tahapan-tahapan fana' adalah al-wujud dan al-musyahadat terhadap baqa' (kekekalan)."

Abu Said al-Kharraz -- rahimahullah mengemukakan tentang makna firman Allah:

"Dan nikmat apa saja yang ada pada kalian,maka itu dari Allah."
(Q.s. an-Nihl:53)

Maksudnya,Allah menghilangkan andil mereka dalam perbuatan yang mereka lakukan dari perbuatan mereka.Dan inilah awal dari kondisi spiritual fana'.

Dari Ja'far al-Khuldi -- rahimahullah -- yang berkata: Saya mendengar al-Junaid berkata ketika ditanya tentang fana',

"Apabila fana' telah hilang dari sifat-sifatnya,maka akan menemukan baqa' dengan kesempurnaannya."

Ja'far al-Khuldi berkata: Saya pernah mendengar dari al-Junaid -- rahimahullah -- yang mengatakan,

"Seluruh diri anda menganggap asing dari sifat-sifat Anda dan menggunakan diri Anda secara keseluruhan."

Ibnu 'Atha' berkata,

"Barang siapa tidak bisa fana' dari melihat dirinya dengan melihat al-Haq dan tidak bisa fana' dari al-Haq dengan al-Haq serta tidak bisa gaib dalam kehadirannya dari kehadiran al-Haq, maka ia tidak akan bisa menyaksikan al-Haq."

Asy-Syibli -- rahimahullah -- pernah berkata,

"Barang siapa fana' dari al-Haq demi kepentingan al-Haq dengan al-Haq demi kepentiingan al-Hak dengan al-Hak maka ia akan fana' dari ar-Rububiyyah,apalagi fana' dari al-'Ubudiyyah."

Barangkali Ruwaim -- rahimahullah -- pernah berkata ketika ditanya tentang masalah fana' dan baqa',

"Awal dari ilmu fana' ialah ketika berpijak pada hakikat-hakikat baqa'.Ini dengan memprioritaskan Allah daripada yang lain,dan mencari semua kondisi spiritual yang ada pada dirinya sehingga Dia merupakan bagian nya,dan hilangnya apa yang selain Allah,sehingga ibadah mereka dengan sendirinya hilang hanya untuk Allah dan yang ada hanyalah ibadah mereka karena Allah dan dengan Allah.Adapun setelah itu tidak akan sanggup dipahami dengan akal dan tidak akan mampu diucapkan lewat lisan."

Dan Allah telah berfirman:

"Semua yang ada di bumi itu akan binasa.".
(Q.s.ar-Rahman:26).

Maka ciri orang yang fana' ialah ketika bagian nya dari dunia dan akhirat telah hilang karena kekekalan mengingat Allah swt.kemudian hilang pula bagiannya dari mengingat Allah swt.ketika mengingat Allah swt.Kemudian ia tidak melihat pada mengingat Allah, sehingga yang ada hanyalah bagiannya dengan Allah.Kemudian bagiannya dari Allah juga hilang karena melihat bagiannya, kemudian bagian nya juga hilang karena melihat bagiannya dengan fananya fana' dan kekekalannya baqa'

Pembahasan mengenai masalah ini cukup panjang.Dan Insya Allah apa yang telah kami sebutkan di atas sudah cukup

4.Kejujuran (ash-Shidq)

4 KEJUJURAN (ash-Shidq)

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata:Ja'far al-Khuldi -- rahimahullah -- telah memberi tahu saya,bahwa ia mendengar al-Junaid yang berkata,

"Barangsiapa mencari sesuatu dengan kejujuran dan bersungguh-sungguh tentu akan mendapatkannya.Dan seandainya tidak mendapatkan seluruhnya maka akan mendapat sebagiannya."

Abu Said al-Kharraz -- rahimahullah -- berkata:Saya bermimpi seakan-akan saya melihat dua malaikat turun dari langit lalu berkata kepada saya,

"Apakah kejujuran itu?" Maka saya menjawab,"Menepati janji."Mereka kemudian berkata,"Anda benar."Kemudian mereka naik lagi kepada langit dan saya masih dapat melihatnya."

Yusuf bin al-Husain -- rahimahullah -- berkata,

"Menurut hemat kami,kejujuran adalah cinta menyendiri,bermunajat kepada Allah,kecocokan antara yang tersembunyi dengan yang lahir disertai dengan kejujuran berbicara,sibuk mengurus diri sendiri tanpa melihat orang lain,menuntut ilmu serta mengamalkannya dalam tata cara makan,adab berpakaian dan mencari rezeki."

Hakim pernah ditanya,"Apa ciri-ciri orang yang jujur?

"Maka ia menjawab,"Menyembunyikan ketaatan."Kemudian ia ditanya lagi,"Apa yang paling menyenangkan hati orang-orang yang jujur?" Ia menjawab,"Menghirup udara segar ampunan Allah dan berbaik sangka kepada Allah swt."

Dzun-Nun -- rahimahullah -- berkata,

"Kejujuran adalah pedang Allah di bumi.Setiap kali diletakan pada sesuatu tentu akan memotongnya."

Al-Harist al-Muhasibi -- rahimahullah -- ditanya tentang kejujuran,maka ia menjawab,

"Kejujuran adalah yang disertakan pada seluruh kondisi spiritual."

Al-Junaid -- rahimahullah -- berkata,

"Hakikat kejujuran akan berlaku sesuai dengan ketentuan Allah dalam semua kondisi."

Abu Ya'qub -- rahimahullah -- berkata,

"Kejujuran adalah kecocokan al-Haq dalam rahasia maupun lahiriah.Sedangkan hakikat kejujuran ialah berkata tentang kebenaran dalam posisi-posisi yang mematikan."

Sementara kaum Sufi yang lain ditanya tentang kejujuran,maka ia menjawab,

"Benarnya menghadap pada tujuan."

8 MERASA CUKUP (KAYA)

   8
MERASA CUKUP (KAYA)

Al-Junaid -- rahimahullah -- ditanya,

"Apa yang paling sempurna? Merasa cukup dengan Allah swt. atau merasa butuh kepada Allah Azza wa Jalla?"

Ia menjawab,

"Merasa butuh kepada Allah Azza wa Jalla secara otomatis mengharuskan merasa cukup dengan-Nya.Apa bila merasa butuh kepada Allah swt.itu sudah benar,maka merasa cukup dengan-Nya akan menjadi sempurna.Oleh karenanya tidak bisa ditanyakan, 'Mana yang paling sempurna diantara dua kondisi tersebut?' Sebab keduanya merupakan dua kondisi yang saling menyempurnakan.Barang siapa menjadikan segala kebutuhannya kepada Allah swt. dengan benar maka ia akan menjadikan rasa cukupnya dengan Allah swt. juga dengan benar."

Yusuf bin al-Husain -- rahimahullah -- pernah ditanya,

"Apa ciri merasa cukup?"

Ia menjawab,

"Yaitu orang yang merasa cukupnya karena agama,dan bukan kerena dunia."

Di tanyakan,

"Kapan orang kaya itu dipuji dalam kekayaannya?"

Ia menjawab,

Jika orang tersebut mendapatkan sesuatu melalui jalurnya,tidak menghalangi hak orang lain,dalam usaha ia saling membantu kebaikan dan takwa,tidak saling membantu perbuatan dosa dan permusuhan,hatinya tidak tergantung kepada harta melainkan hanya kepada Allah swt.,tidak bersedih karena kehilangan,tidak senang karena memiliki,dalam kecukupannya ia selalu membutuhkan Allah Azza wa Jalla,dalam kefakirannya ia merasa cukup dengan Allah swt. Ia merupakan 'gudang penyimpanan' dari gudang-gudang Allah swt. Sehingga kecukupannya adalah karena yang bermanfaat untuknya dan tidak mencelakakannya.Jika ia termasuk orang yang mempunyai sifat-sifat seperti itu,maka ia termasuk orang yang beruntung dan akan masuk surga setelah orang-orang fakir dengan tenggang waktu lima ratus tahun,sebagaimana sabda Rasulullah.saw.

'Orang-orang fakir dari umatku akan masuk surga lebih dahulu daripada orang-orang kaya dengan tenggang waktu lima ratus tahun(setengah hari di akhirat)'".

Amar bin Utsman al-Makki -- rahimahullah -- ditanya tentang kekayaan yang mengumpulkan kekayaan,maka ia menjawab,

"Ialah ketidak butuhan terhadap kekayaan.Sebab bila Anda merasa cukup dengan kekayaan,berarti anda membutuhkannya karena kekayaan (kecukupan)Anda.Tapi jika anda merasa cukup dengan Allah semata,dan tidak merasa cukup dengan kekayaan berarti Anda tidak butuh kekayaan dan selain kekayaan".

Al-Junaid -- rahimahullah -- berkata,

Jiwa yang telah dimuliakan Allah dengan hakikat kekayaan,maka segala kebutuhan itu akan hilang."

lanju pada judul berikut

KEFAKIRAN

klik untuk kembali kepada laman Pertama

5 ASAS DASAR MADZHAB KAUM SUFI

5 Asas Dasar Madzhab Kaum Sufi

Dikisahkan dari al-Junaid -- rahimahullah -- yang mengatakan, "Para ahli ilmu telah sepakat,bahwa pako-poko ajaran madzhab mereka ada lima perkara: puasa siang hari,bangun malam,ikhlas dalam beramal,selalu mengawasi amal perbuatannya dengan perhatian yang terus menerus dan bertawakal kepada Allah swt.dalam segala kondisi."

Dikisahkan dari Abu Utsman,yang mengatakan, "Landasan dasar kami adalah diam dan merasa cukup dengan ilmu Allah Azza wa Jalla."

Al-Junaid -- rahimahullah -- berkata, "Kekurangan dalam kondisi spiritual merupakan cabanng (furu') yang tidak membahayakan.Namun yang berbahaya adalah tertinggal dalam kondisi spiritual pokok-pokok ajaran Sufi sekalipun hanya sebesar atom.Sehingga ketika pokok-pokok ajaran Sufi sudah kuat,maka kekurangan yang ada pada cabang tidak akan berbahaya."

Abu Ahmad al-Qalanisi -- rahimahullah -- mengatakan,"Pokok-pokok ajaran madzhab kami dibangun atas tiga dasar:(1) Tidak meminta orang lain memenuhi hak kami;(2)Menuntut diri kami sendiri untuk memenuhi hak-hak orang lain;(3)Mamastikan diri kami selalu terjadi kekurangan dalam segala yang kami lakukan."

Sahl bin Abdullah -- rahimahullah -- berkata, "Poko-poko ajaran kami ada tujuh perkara:(1) Berpegang teguh dengan Kitab Allah;(2)Mengikuti jejak Rasulullah.saw.;(3)Makan makanan yang halal;(4)Tidak menyakiti orang lain;(5)Menjauhi segala perbuatan keji;(6)Bertobat dan (7)Menunaikan hak-hak orang lain."

Saya mendengar al-Hushri -- rahimahullah -- berkata,"Poko-poka ajaran kami ada enam:(1)Menghilangkan hadas;(2)Menauhidkan al-Qidam(Allah );(3)Mengasingkan diri dari teman;(4)Meninggalkan tanah air;(5)Melupakan apa yang telah diketahui dan (6)Melupakan apa yang belum diketahui."

Sebagian kaum fakir(Sufi)mengatakan, "Pokok-pokok ajaran kami ada tujuh: (1) Menunaikan fardhu (kewajiban);(2)Menjauhi hal yang diharamkan;(3)Memutuskan keterkaitan dengan makhluk;(4)Merangkul kefakiran;(5)Tidak mencari;(6)Tidak menyimpan untuk waktu berikutnya;(7)Mencurahkan segalanya hanya untuk Allah dalam seluruh waktunya."

1.Al-JAM'U DAN AT-TAFRIQAH

1.
Al-JAM' DAN AT-TAFRIQAH 

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata: Al-jam'u dan at-tafriqah adalah dua istilah,dimana al-Jam'u berarti menyatukan hal-hal yang terpisah,sedangkan at-tafriqah berarti memisahkan hal-hal yang telah menyatu.Jika anda menyatukan,maka anda akan mengatakan,"Allah dan bukan yang lain".Dan jika Anda memisahkan,maka Anda mengatakan,"Dunia,akhirat dan alam semesta".Inilah firman Allah swt.:

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia".

(Q.s.Ali Imran:18).

Dalam potongan ayat ini Allah swt. telah menyatukan (al-Jam'untuk), kemudian selanjutnya Dia memisahkan dengan firman-Nya:

"Dan para malaikat dan orang-orang yang berilmu yang menegakkan keadilan (juga menyatakan yang demikian itu)."

(Q.s.Ali Imran:18).

Demikian pula firman-Nya:

"Katakanlah (hai orang-orang mukmin):'Kami beriman kepda Allah'".

(Q.s. Al-Baqarah:136)

Dalam potongan ayat tersebut Allah telah menyatukan,kemudian selanjutnya Dia memisahkan dengan firman-Nya:

"Dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim,Ismail,Ishaq,Ya'qub dan anak cucunya,dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya"

(Q.s. al-Baqarah:136).

Maka dengan demikian al-jam'untuk merupakan asal utama,sedangkan at-tafriqah adalah cabang.Sehingga asal utama (al-ashl) tidak akan diketahui kecuali dengan cabang (far'u).Sementara itu cabang tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya asal utama.Maka setiap al-jam'untuk tanpa at-tafriqah adalah kafir zindiq,sedangkan setiap at-tafriqah tanpa dibarengi al-jam'untuk adalah ateis.

Para guru Sufi terdahulu telah membicarakan tentang makna al-jam'u dan at-tafriqah.Maka ketika Abu Bakar Abdullah bin Thahir al-Abhari ditanya tentang hal itu,

"Sejauh mana kaum Sufi memberi isyarat terhadap makna al-jam'untuk dan at-tafriqah?"Maka ia menjawab,"Mereka memberi isyarat bahwa penyatuan (jam'u)mereka pada diri Adam a.s. sedangkan pemisahan (tafriqah)mereka pada keturunannya."

Sebagian kaum Sufi yang lain memberi isyarat,bahwa penyatuan mereka pada ma'rifat,sedangkan pemisahan nya pada berbagai kondisi spiritual(ahwal).

Sementara itu al-Junaid pernah mengungkapkan tentang makna al-jam'u dan at-tafriqah dalam syairnya:

Aku mencari hakikat-Mu dalam rahasia hatiku,
lalu lisanku bermunajat kepada-Mu
Kami menyatu karena beberapa makna
dan berpisah pun karena berbagai makna
Jika keagungan tidak terlihat mata adalah Kegaiban-Mu,
Maka cinta yang membara menjadikan-Mu
apa yang ada dalam lubuk hati begitu dekat

Barangkali an-Nuri yang pernah mengatakan,

"Menyatukan al-Haq berarti memisahkan dari yang lain,sedangkan memisahkan dari yang lain berarti menyatukan al-Haq".

Sementara itu,kaum Sufi yang lain mengatakan,

"Al-jam'u adalah penyatuan diri (al-itishal),dimana ia tidak akan menyaksikan inabah(kembali kepada Tuhan)bila ia masi melihat inabahnya.Maka ia tidak akan bisa sampai pada tujuan sementara at-tafriqah masi disaksikannya."

Kaum Sufi mengatakan,

"Tidak ada penyatuan dengan al-Haq kecuali terpisah dari sifat.Dan tidak ada penyatuan dengan sifat kecuali terpisah dari al-Haq.Dimana keduanya saling menafikan,sebab menyatukan dengan al-Haq berarti keluar dari argumentasinya dan memisahkannya.Sementara itu menyatukan dengan al-Haq berarti menghalangi dengan al-Haq dan memisahkan dengan-Nya."

Kaum Sufi yang lain juga mengatakan,

"Al-jam'untuk adalah sesuatu yang menyatukan sifat manusiawi dalam kesaksian manusiawi,sedangkan at-tafriqoh adalah sesuatu yang memisahkannya dari pembagian berbagai ciri."

Al-Junaid -- rahimahullah -- berpendapat,bahwa kedekatan-Nya karena sangat cinta (wajd) berarti jam'u (penyatuan),sedangkan kegaiban-Nya dalam sifat manusiawi berarti tafriqah (pemisahan).

Abu Bakar al-Wasithi -- rahimahullah -- berkata,

"Jika Anda melihat pada diri Anda berarti Anda memisahkan,dan jika Anda melihat Tuhan berarti anda menyatukan,dan jika anda melakukan dengan orang lain berarti Anda mayat."

Inilah beberapa pengertian singkat tentang al-jam'u dan at-tafriqah.Sementara bagi orang yang mau merenungkannya tentu akan memahaminya,Insya Allah.

PERBEDAAN PENDAPAT DALAM MEMBERIKAN JAWABAN BERBAGAI MASALAH

PERBEDAAN PENDAPAT DALAM 
MEMBERIKAN JAWABAN BERBAGAI MASALAH

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata: saya ingin menyebutkan sekilas tentang perbedaan pendapat kaum Sufi dalam berbagai masalah yang menjadi keistimewaan mereka dengan jawaban-jawaban yang beragam,serta menjelaskan apa yang menjadi masalah di kalangan ulama dan ahli fiqih serta orang-orang yang hanya memahami "kulitt"luar,dimana hal ini memang bukan keahlian mereka.