بسم الله الرحمن الرحيم

Tampilkan postingan dengan label BAGIAN KEDUA KAUM SUFI DALAM MEMAHAMI DAN MENGIKUTI KITAB ALLAH SWT.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAGIAN KEDUA KAUM SUFI DALAM MEMAHAMI DAN MENGIKUTI KITAB ALLAH SWT.. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Maret 2014

BAGIAN KEDUA KAUM SUFI DALAM MEMAHAMI DAN MENGIKUTI KITAB ALLAH SWT.(IX).ORANG YANG BENAR DAN YANG SALAH DALAM ISTINBATH,MEMBERI ISYARAT DAN MEMAHAMI AL-QUR'AN

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata:Cara yang benar dalam ber-istinbath (pengambilan kesimpulan) dan memahami makna al-Qur'an adalah hendaknya tidak mendahulukan apa yang Allah meletakan di akhir,dan juga tidak mengakhirkan apa yang Allah meletakannya di awal.Jangan sekali-kali menentang Ketuhanan (Rububiyyah),jangan keluar dari penghambaan ('Ubudiyyah) dan jangan sampai ada penyimpangan kata-kata.

Misalnya sebagaimana dikisahkan dari sebagian mereka,ketika ditanya tentang makna firman Allah swt.;

"Dan (ingatlah kisah) Ayyub,ketika ia memanggil (berdoa) kepada Tuhannya,'(Ya Tuhanku),sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit'". (Q.S. Al-Anbiya': 83).

Ia mengatakan,bahwa maknanya penyakit itu tidak menjadikanku menderita.

Saya juga mendengar dari sebagian orang diantara mereka saat ditanya tentang makna firman Allah swt.;

"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim,lalu Dia melindungimu." (Q.S. Adh-Dhuha: 6).

Maka ia menjawab,"Bahwa makna kata yatim itu diambil dari ad-durrah al-yatimah (mutiara langka yang tidak ada tandingannya)."

Yang lain ditanya tentang makna firman Allah:

"Katakanlah,'Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu'". (Q.S. Al-Kahfi: 110).

Maka ia mengatakan,"Saya adalah manusia yang sama dengan kalian menurut kalian."

Contoh penafsiran-penafsiran seperti ini adalah salah,rekayasa,kebohongan kepada Allah,kebodohan dan kurang memperhatikan kaidah-kaidah penafsiran.Itu adalah penyimpangan dan pemutar balikan kata dari posisi yang sebenarnya.Ini cara pemahaman dan pengambilan kesimpulan yang kurang sehat.

Adapun pemahaman yang benar adalah sebagaimana yang dikatakan Abu Bakar al-Kattani saat ditanya tentang makna firman Allah swt.:

"Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Q.S. Asy-Syu'ara': 89).

Maka ia menjawab,"Bahwa dengan cara pemahaman yang benar,hati yang bersih itu ada tiga macam:

Pertama,orang-orang yang menghadap Allah Azza wa Jalla,sementara dalam hatinya tidak ada sekutu apa pun bagi Allah swt.

Kedua,orang-orang yang menghadap Allah dan hatinya tidak pernah melupakan Allah dan sama sekali tidak menginginkan selain Allah.

Ketiga,adalah orang-orang yang menghadap Allah,sementara tidak ada yang bisa berbuat apa-apa selain Allah.Ia fana dari segala kemiripan dengan Allah,kemudian fana dari Allah dengan Allah."

Sementara itu makna ucapan al-Kattani, "Fana dari Allah dengan Allah," adalah tidak melihat ketaatannya kepada Allah,dzikirnya kepada Allah dan cintanya kepada Allah,karena Allah telah mengingatnya dan mencintainya lebih dahulu sebelum makhluk mencintai-Nya.Sebab Allah mengingatnya lebih dahulu sebelum mereka mengingatnya-Nya.Allah telah mencintainya lebih dahulu,baru mereka mencintai-Nya,dan karena bantuan dan perhatian Allah kepada mereka lebih dahulu,maka mereka bisa taat kepada-Nya.

Demikian halnya dengan Syah al-Kirmani _ rahimahullah - saat ditanya tentang makna firman Allah swt.;

"(yaitu Tuhan)Yang telah menciptakanku,maka Dialah yang menunjukan aku,dan Tuhanku,Dia yang memberi makan dan minum kepadaku,dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku." (Q.S. Asy-Syu'ara': 78-80).

Maka al-Kirmani mengatakan, "Dialah Dzat Yang menciptakanku,Dia pula Yang menunjukan aku kepada-Nya dan bukan yang lain.Dialah Yang memberiku makanan ridha dan memberiku minuman rasa cinta kepada-Nya (mahabbah).Jika aku sakit karena melihat diriku sendiri,maka Dialah Yang menyembuhkanku dengan melihat (musyahadah) kepada-Nya.Dialah yang mematikanku dari melihat diri sendiri,dan Dia pula Yang menghidupkanku dengan-Nya,sehingga aku bisa berbuat karena-Nya dan bukan karena diriku sendiri.Dialah Dzat Yang aku sangat berharap agar aku tidak dipermalukan saat aku menghadap kepada-Nya akibat aku melihat amal dan ketaatanku.Sehingga aku nantinya merasa sangat miskin dan butuh kepada-Nya secara global."

Tatkala seorang tahu bahwa yang dicapai dan diinginkan tak akan tercapai kecuali hanya dengan Allah maka dia berkata,sebagaiman yang pernah diucapkan Nabi Ibrahim a.s.;

"(Ibrahim berdoa), 'Ya Tuhanku,berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh." (Q.S. Asy-Syu'ara': 83).

Dan sebagaimana Abu Bakar al-Wasithi _ rahimahullah _ ketika ditanya tentang makna firman Allah swt.;

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah.Ingatlah,hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram." (Q.S. Ar-Ra'd: 28).

Maka al-Wasithi menjawab, "Hati seorang mukmin itu adalah hati yang tentram dengan mengingat Allah,sedangkan hati seorang arif tidak akan pernah tentram kecuali dengan-Nya."

Sebagaimana pula pertanyaan yang diberikan kepada asy-Syibli _ rahimahullah - tentang makna firman Allah;

"Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki,'Hendaklah mereka menahan pandangannya." (Q.S. An-Nur: 30)

Maka ia menjawab, "Maknanya ialah pandangan mata kepala dari melihat hal-hal yang Allah haramkan."

Dan sebagaimana pertanyaan yang diberikan kepada asy-Syibli _ rahimahullah _ tentang makna firman Allah;

"Sesungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya,sedang dia menyaksikannya." (Q.S. Qaf: 37).

Maka as-Syibli menjawab, "Yakni bagi orang yang Allah swt.adalah hatinya. "Kemudian dia mengucapkan sebuah syair:

Tak ada satu hati dariku yang kupersembahkan untuk-Mu,
Semua anggota badan yang ada padaku adalah hatiku untuk-Mu.

Adapun cara pemahaman dengan isyarat adalah apa yang dikatakan oleh Abu al-Abbas bin 'Atha' _ rahimahullah _ "Kebenaran itu tidak akan ditemukan bersama dengan penyimpangan."

Kemudian ia memberi isyarat pada firman Allah swt.;

"Tatapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran,maka ketahuilah,bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Q.S. Al-Baqarah: 209).

Sebagaimana pula yang pernah ia katakan, "Bahwa seorang yang mencintai-Nya tidak akan disiksa.Sementara adanya rasa sakit itu karena sifat-sifat manusiawinya. "Ia merujuk pada firman Allah swt.;

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, 'Kami ini adalah anak-anak Allah dan para kekasih-Nya'.Katakanlah,'Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosa kamu?'(Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya." (Q.S. Al-Ma'idah: 18).

Dan sebagaimana yang diisyaratkan oleh Abu Yazid al-Bisthami tatkala ditanya tentang makna ma'rifat.Maka ia mengutif firman Allah swt.;

"Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri,niscaya mereka membinasakannya,dan menjadikan pendudukannya yang mulia jadi hina;dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat." (Q.S. An-Naml: 34).

Yang ia maksud dengan ayat ini adalah bahwa kebiasaan para raja jika telah menduduki suatu negeri,maka mereka akan memperbudak penduduknya sehingga mereka tunduk dan hina dihadapan para raja.Mereka tidak akan mampu melakukan apa pun kecuali mendapat perintah dari raja.Demikian pula dengan ma'rifat,jika ia telah masuk dalam hati seseorang,ia tidak akan membiarkan apa pun di dalamnya kecuali ia akan mengusirnya keluar,dan tak ada gerakan apa pun kecuali ia akan membakarnya.

Dan sebagaimana yang diisyaratkan al-Junaid _ rahimahullah _ ketika ditanya tentang ketenangan hatinya dan sedikit sekali anggota tubuhnya gemetar ketika sedang sama' (ekstase), maka ia merujuk pada firman Allah;

Dan kamu melihat gunung-gunung itu,kamu sangka dia tetap di tempatnya,padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan.(Begitulah) ciptaan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu." (Q.S. An-Naml: 88).

Dan sebagaimana yang diisyaratkan Abu Ali ar-Rudzabari _ rahimahullah _ ketika melihat para sahabatnya sedang berkumpul,maka ia membaca firman Allah;

"Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya." (Q.S. Asy-Syura: 29).

Abu Bakar az-Zaqqaq _ rahimahullah _ berargumentasi atas apa yang pernah dikatakan kepada az- Zuhri tentang definisi manusia,maka ia mengatakan, "Jika berbicara maka hanya sesaat dan jika diam maka dalam sehari." Ini atas dasar firman Allah swt.;

"Dan kalau Kami menghendaki,niscaya Kimi tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka." (Q.S. Muhammad:30)

Contoh-contoh yang terakhir ini dan yang semisal adalah benar.Dan hanya Allah Yang Mahatahu.Oleh karenanya,silahkan Anda mengiaskan sendiri apa yang Anda dengar dari isyarat-isyarat dan hasil ijtihad kaum Sufi terhadap apa yang telah kami paparkan di atas.Sehingga Anda mampu membedakan antara yang benar dengan yang salah.Sementara itu,orang yang cerdik akan merasa cukup dengan yang sedikit ini untuk bisa meraih yang banyak,dan dengan apa yang ada ini akan menjadikannya sebagai dalil terhadap apa yang tidak ada.Semoga Allah senantiasa memberi taufik.

BAGIAN KEDUA KAUM SUFI DALAM MEMAHAMI DAN MENGIKUTI KITAB ALLAH SWT.(VIII). PEMAHAMAN TENTANG HURUF DAN NAMA-NAMA

Syekh بسم الله bu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata:Dikatakan,bahwa apa yang bisa dijangkau oleh ilmu pengetahuan,bisa dipahami oleلله  akal,apa yang bisa diungkapkan dan bisa diisyaratkan adalah digali dari dua huruf yang ada diawal pembukaan Kitab Allah swt.yaitu firman-Nya, بسم الله [Bismilla-hi ] dan الحمد لله [al-hamdu-lilla-hi] karena maknanya adalah بالله  [billa-hi ] (dengan Allah) dan لله  [lilla-hi ] (karena Allah).Sementara itu isyarat tentang itu adalah,bahwa apa yang bisa dijangkau oleh ilmu pengetahuan makhluk dan bisa dipahami oleh kemampuan akal mereka tidaklah berdiri sendiri.Akan tetapi hanya bisa eksis dengan Allah dan karena Allah.

Dikatakan kepada asy-Syibli _ rahimahullah,"Sebagaimana yang saya trima,isyarat apa yang terdapat dalam huruf ba' dari بسم الله [bismillah]?" Maka asy-Syibli menjawab,"Hanya dengan Allah (billah) seluruh ruh,jasad dan gerak itu bisa eksis.Dan bukan semata dengan diri mereka sendiri."

Abu al-Abbas bin 'Atha' _ rahimahullah _ ditanya,"Kepada apa hati kaum arifin itu merasa tenang?" Ia menjawab, "Kepada huruf awal dari Kitab-Nya yaitu huruf ba' dari بسم الله الرحمن الرحيم (Bismillahirrahmanirrahim ). Sebab maknanya adalah,hanya dengan Allah segala sesuatu itu muncul,dan hanya dengan-Nya mereka fana (hilang).Karena tajalli (penampakan diri)-Nya mereka menjadi baik dan karena istitar (terhalangi)-Nya mereka menjadi jelek.Karena di dalam Nama-Nya yaitu 'Allah' terkandung kebesaran dan keagungan-Nya.Di dalam Nama-Nya, 'Arrahman' terkandung cinta dan kasih-Nya,dan di dalam Nama-Nya, 'Arrahim' terkandung pertolongan dan bantuan-Nya."

Mahasuci Dzat Yang membedakan makna-makna yang ada pada Nama-nama ini dalam keunikan yang sangat tinggi.

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata;Makna ucapan Abu al-Abbas bin 'Atha', "Karena tajalli (penampakan Diri)-Nya mereka menjadi baik." adalah karena Allah menerimanya.Dan oleh karenanya kebaikan itu disebut baik.Sebab Allah menerimanya.Dan andaikan Allah tidak menerimanya maka kebaikan itu tidak bisa disebut baik.Sedangkan makna,"Karena istitar(terhalangi)-Nya mereka menjadi jelek."adalah karena Allah menolak dan berpaling darinya.Oleh karenanya kejelekan itu disebut jelek.Dan andaikan tidak demikian,tentu kejelekan tidak akan disebut jelek.

Abu Bakar al-Wasithi _ rahimahullah _ berkata,"Setiap Nama dari Nama-Nama Allah bisa dijadikan sebagai sifat perangai kecuali dua Nama-Nya:yaitu Allah dan ar-Rahman.Sebab keduanya sebagai tempat bergantung dan bukan ditiru menjadi akhlak manusia.Demikian pula ash-Shamadiyyah,tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.Allah swt.berfirman,;

"Sedangkan ilmu mereka tidak bisa memahami Ilmu-Nya secara sempurna'." (Q.S. Thaha: 110).

Sebagaimana juga dikatakan,bahwa Nama Allah yang paling Agung adalah الله  (Allah).Sebab jika huruf alif-nya hilang maka masih bisa terbaca لله  (LiLlah: untuk Allah) dan jika huruf lam pertamanya hilang maka masih tetap terbaca له (lahu:untuk-Nya).Dengan demikian tak akan pernah hilang isyarat yang merujuk kepada Allah meskipun huruf lam yang kedua dihilangkan maka masih tersisa huru ه ha'(Nya).Sementara seluruh rahasia terkandung dalam huruf ha'.Karena maknanya adalah Dia (Nya).Sedangkan Nama-nama Allah yang lain jika salah satu hurufnya hilang maka akan hilang pula maknanya dan tidak menyisakan suatu isyarat dan tidak mengandung ungkapan.Oleh karenanya dia tidak diberi Nama selain Allah swt.

Shl bin Abdullah _ rahimahullah _ berkata, "Alif adalah huruf awal dan paling agung.Sebab merupakan suatu isyarat,bahwa,Allah menyatukan segala sesuatu,sementara Dia berbeda dengan segala sesuatu."

Abu Said al-Kharraz _ rahimahullah _ berkata,"Tatkala seorang hamba dikumpulkan kepada Allah,maka tidak ada anggota tubuhnya yang berpaling kepada selain Allah.Maka pada saat itulah ia akan mencapai hakikat-hakikat pemahaman ketika membaca Kitab Allah Azza wa Jalla yang tidak bersama dengan makhluk."

Abu Said _ rahimahullah _ juga mengatakan, "Ketika satu huruf dari huruf-huruf kitab Allah itu tampak sesuai dengan kadar kedekatan dan kehadiran hati Anda,maka pada huruf itu terdapat sumber pemahaman yang tidak sama dengan jalan keluar pemahaman yang lain.Misalkan Anda mendengarkan firman-Nya الم.ذلك[Alif-lam-mim].Maka pada alif terdapat suatu pemahaman ilmu yang tidak sama dengan pemahaman yang ada pada lam.Sementara itu akan terjadi perbedaab dalam pemahaman sesuai dengan kadar cinta,kejernihan dzikir dan adanya kedekatan Anda kepada-Nya."

Abu Sulaiman ad-Darani _ rahimahullah _ berkata, "Munkin ada satu ayat yang datang dalam waktu lima malam.Andaikan aku hanya berkutat pada ayat itu maka aku tak akan beranjak pada yang lain untuk selamanya.Mungkin ada suatu ayat dari al-Qur'an yang datang kemudian akal pun melayang bersamanya.Sungguh Mahasuci Allah yang kemudian mengembalikannya setelah itu."

Wahib bin al-Ward _ rahimahullah _ berkata:"Kami telah banyak merenungkan berbagai macam Hadis dan adab,ternyata kami tidak menemukan sedikitpun yang lebih bisa menjadi hati ini lembut dan lebih bisa menjadikan sedih dan khawatir dari manfaat membaca dan merenungkan al-Qur'an".

BAGIAN KEDUA KAUM SUFI DALAM MEMAHAMI DAN MENGIKUTI KITAB ALLAH SWT.(VII) PENEKANAN (TASYDID)DALAM AL-QUR'AN DAN ALASANNYA.

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata:Perlu Anda ketahui,bahwa Allah telah mewajibkan kepada hamba-Nya untuk bertakwa dengan firman-Nya:

"Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kemampuanmu." (Q.S. At-Taghabun: 16)

Andaikan mereka datang dengan membawa seluruh amal para malaikat,para nabi dan orang-orang yang jujur,kemudian Allah meminta kepada mereka akan hakikat amal-amal tersebut,tentu argumentasi yang memberatkan mereka akan lebih besar daripada yang menguntungkannya.

Apakah Anda tidak memperhatikan para malaikat yang secara kodrati mereka diciptakan untuk melakukan berbagai macam ibadah masih juga berkata,;

"Mahasuci Engkau,wahai Tuhan kami,kami tidak mampu menyembah (beribadah) kepada-Mu dengan ibadah yang semestinya untuk-Mu.Kemudian mereka berkata,'Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami." (Q.S. Al-Baqarah:32)

Mereka cuci tangan dari ilmu pengetahuan dan ibadah mereka tatkala menyaksikan hakikat.

Sedangkan makna firman Allah Azza wa Jalla:

"Hai orang-orang yang beriman,bertakwalah kepada Allah sebenar-bener takwa kepada-Nya." (Q.S. Ali Imran: 102)

Maka sebaiknya Anda merujuk kembali kepada firman Allah swt.,;

"Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kemampuanmu." (Q.S. At-Taghabun: 16).

Sementara itu penekanan makna adalah pada firman Allah,;

"Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kemampuanmu." (Q.S. At-Taghabun: 16).

Sebab andaikan Anda mampu shalat sebanyak seribu rakaat dan Anda mampu melakukan satu rakaat lagi namun Anda tunda pada waktu yang lain,maka Anda telah meninggalkan apa yang seharusnya bisa Anda lakukan dengan kemampuan Anda.Dan andaikan Anda berdzikir (menyebut dan mengingat) Allah sebanya seribu kali,dan Anda masih mampu berdzikir sekali lagi,namun Anda tunda di waktu yang lain berarti Anda telah meninggalkan apa yang seharusnya bisa Anda lakukan sesuai dengan kemampuan Anda.Demikian halnya jika Anda bersedakah kepada seorang pengemis senilai satu dirham,dan Anda mampu memberikan satu dirham lagi atau sebutir makanan yang lain,namun Anda tidak melakukannya,maka Anda telah meninggalkan apa yang bisa Anda lakukan sesuai dengan kemampuan Anda.

Oleh karenanya,kami katakan,bawa titik penekanannya adalah firman-Nya, [mas ta tho'-tum] ("sesuai dengan kemampuan kalian").

Dan diantara ayat-ayat yang di dalamnya terdapat penekanan adalah firman Allah:

"Maka demi Tuhannu,mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan,kemudian mereka merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan,dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (Q.S. An-Nisa': 65).

Titik penekanan dalam ayat ini ialah,Allah swt.menyebutkan suatu sumpah bahwa mereka benar-benar tidak beriman sehingga mereka mengangkat Rasulullah.saw.sebagai hakim yang memutuskan perkara yang mereka perselisihkan.Tapi apabila mereka mendapatkan keberatan atau keputusan yang tidak mereka senangi,_ misalnya Rasulullah.saw.memutuskan hukuman mati kepada mereka _ maka mereka akan keluar dari keimanannya.

Dalam ayat tersebut,Allah telah bersumpah,bahwa mereka mesti keluar dari keimanan.

Maka apabila hal itu kita kiaskan terhadap apa yang Allah perintahkan kepada kita,misalnya bersabar atas berbagai keputusan hukum Allah dan ridha dengan apa yang Dia bagikan kepada kita,mulai dari akhlak,rezeki,ajal,amal perbuatan dan lain-lain tentu kita dan bahkan sebagian besar umat manusia tidak akan menemukan keimanan,sekalipun hanya sebesar atom (dzarrah).Dan andaikan tidak ada harapan makhluk akan kelusan rahmat Allah swt.niscaya dengan demikian mereka akan hancur.

BAGIAN KEDUA KAUM SUFI DALAM MEMAHAMI DAN MENGIKUTI KITAB ALLAH SWT.(VI) PEMAHAMAN TENTANG AS-SABIQUN,AL-MUQARRABUN DAN AL-ABRAR DARI PEMAHAMAN IJTIHAD

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata;

"Dan orang-orang yang paling dahulu beriman,merekalah yang paling dahulu (masuk surga).Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah)." (Q.S. Al-Waqi'ah: 10-1).

Kemudian Allah menerangkan kelebihan orang-orang yang dekat dengan Allah dari mereka yang banyak berbakti (al-abrar) dan mereka yang terdepan dalam melakukan kebaikan (as-sabiqun) daripada orang-orang yang tingkatannya lebih rendah:

"Sekali-kali tidak,sesungguhnya kitab orang-orang berbakti itu (tersimpan) dalam surga 'Illiyyin.Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu?" (Q.S. Al-Muthaffifin: 18-9).

Kemudian Dia berfirman:

"Sesungguhnya orang yang banyak berbuat kebaikan itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga).Mereka (duduk) di atas sofa sambil memandang." (Q.S. Al-Muthaffifin: 22-3).

Allah menerangkan sifat-sifat kemuliaan yang dimiliki oleh al-abrar orang-orang yang banyak berbuat kebaikan) dan kekhususan dengan mendapatkan kenikmatan yang tinggi dan derajat di surga 'Illiyyin.Maka dia berfirman;

"Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan." (Q.S. Al-Mutaffifin: 24).

Yakni bahwa para penghuni surga yang lain diberi minum khamer _ hingga pada firman-Nya:

"Mereka diberi minum dari khamar murni yang disegel (tempatnya)." (Q.S. Al-Mutaffifin: 25).

Sementara itu Allah tidak menjelaskan,bahwa para penghuni surga yang lain diberi minum khamer _ hingga pada firman-Nya:

"Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim,(yaitu) mata air yang diminum orang orang-orang yang didekatkan kepada Allah." (Q.S. Al-Mutaffifin).

Allah mengistimewakan al-abrar dari para penghuni surga yang lain dengan minum khamar murni yang tersegel wadahnya.Kemudian Allah mengutamakan minuman al-abrar dari minuman para penghuni surga yang lain dengan adanya campuran yang ada di dalamnya adalah tasnim.Sadangkan tasnim adalah sumber mata air yang diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabun) Sehingga minuman yang menjadi keutamaan mereka daripada para penghuni surga yang lain adalah menjadi alasan keunggulan mereka bila dibandingkan dengan minuman al-muqarrabun. Sebab minuman al-abrar bercampur dengan tasnim yang berasal dari sumber mata air yang diminum oleh al-muqarrabun. Sementara minuman al-muqarrabun tidak bercampur apa-apa.

Maka perhatikan isyarat-isyarat di atas.Betapa lembut dan rumitnya pemahaman mereka tentang makna al-muqarrabun. Sebab al-abrar yang menjadi penghuni surga 'Illiyyin mendapat keistimewaan minuman arak murni yang wadahnya masih tersegel,wajahnya cerah karena melihat kehidupan yang penuh nikmat,tempat duduk mereka dari sofa dan minuman mereka dicampur dengan tasnim yang menjadi minuman al-muqarrabun secara terus menerus.

Dari firman Allah swt.tersebut,orang-orang berilmu yang ahli dalam memahami dengan benar telah berijtihad dengan memberikan dua makna:

Pertama,bahwa minuman al-abrar dicampur dengan minuman lain.Sedangkan minuman al-muqarrabun masih murni dan tidak dicampur dengan bahan minuman lain.Sebagaimana firman Allah pada ayat yang lain:

"Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbuat kebaikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur." (Q.S. Al-Insan: 5).

Kemudian Allah menjelaskan tentang apa yang dijanjikan kepada mereka:

"Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil." (Q.S. Al-Insan: 17-8).

Kemudian Allah memberikan gambaran lain tentang kenikmatan yang akan diperoleh penghuni surga:

"Dan apabila kamu melihat di sana (surga) niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar." (Q.S. Al-Insan: 20).

Dalam ayat ini Allah mengisyaratkan tentang kenikmatan yang tidak bisa diterangkan sifatnya dengan firman-Nya,[summa ra-aeta na'ima](disana(surga),niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan.) Dia tidak menjelaskan sifat kenikmatan tersebut.Namun tatkala sampai pada akhir kisah Dia berfirman:

"Dan Tuhan mereka memberinya minuman yang bersih." (Q.S. Al-Insan: 21)

Maka setiap kali Allah menyebutkan minuman dan sifat perbuatan yakni minum,maka Allah menyebutkan campuran yang ada dalam minuman mereka.

Namun tatkala Dia berfirman,;

"Dan Tuhan mereka memberinya minuman yang bersih." (Q.S. Al-Insan: 21).ternya Allah tidak menyebutkan campuran yang ada dalam minuman mereka.

Kedua, sumbermata air yang menjadi minuman al-muqarrabun orang-orang yang didekatkan kepada Allah) dicampur dengan mata air yang menjadi minuman al-abrar.

Sehingga dengan demikian al-abrar ( orang-orang yang banyak berbuat kebaikan) mengungguli para penghuni surga yang lain dengan keistimewaan minuman mereka yang dicampur dengan tasnim yang merupakan mata air yang diminum al-muqarrabun.

Ini perbedaan antara al-abrar dengan al-muqarrabun Dan hanya Allah Yang Mahatahu.

Kemudian Allah berfirman:

"Dan Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya." (Q.S. Al-Mu'minun: 62).

Allah menjelaskan,bahwa orang-orang mukmin diberi kemampuan sesuai dengan kadar kekuatan mereka untuk mengurangi hakikat-hakikat ini dan menghadapi berbagai kondisi spiritual.Sebab hakikat-hakikat yang dibawa oleh para nabi a.s.dan orang-orang yang tingkatannya lebih rendah adalah selalu berada dalam lingkup firman Allah Azza wa Jalla:

"Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kemampuanmu." (Q.S. At-Taghabun: 16).

Tentu tak seorang pun yang berada di luar batas ini.

BAGIAN KEDUA KAUM SUFI DALAM MEMAHAMI DAN MENGIKUTI KITAB ALLAH SWT.(V).SIFAT ORANG-ORANG YANG SANGGUP MENGUASAI HATI NURANI DALAM MEMAHAMI AL-QUR'AN

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata:Allah swt.telah menyebut sifat seluruh orang-orang yang sanggup menguasai hati nuraninya dan orang-orang ahli hakikat.Dari para murid,orang-orang arif,orang-orang yang sanggup mengaktualisasikan masalah sebenarnya,orang-orang sanggup menghayati,orang-orang yang ahli dalam bermujahadah dan pelatihan spiritual dan orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai bentuk ketaatan,baik secara lahir maupun batin.Sebagaimana yang dijelaskan dalam Kitab-Nya,yaitu firman-Nya yang menjelaskan para malaikat-Nya:

"Orang-orang [Nabi Isa,'Uzair dan para malaikat] yang mereka sembah itu;mereka sendiri (mengajak) mencari jalan (kedekatan) kepada Tuhannya,siapa diantara mereka yang paling dekat (dengan Tuhannya)." (Q.S. Al-Isra' :57).

Dia juga berfirman kepada orang-orang mukmin;

"Hai orang-orang yang beriman,bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya." (Q.S. Al-Ma'idah)

Maka dalam ayat ini ada penjelasan tentang sifat orang-orang yang beriman dengan kegaiban,dimana mereka berusaha mencari wasilah (sarana).

Kemudian pada ayat lain ada penjelasan tentang sifat orang-orang mukmin,dimana Allah mendorong mereka untuk bersegera menuju kebaikan.Maka Allah Azza wa Jalla berfirman,;

"Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa),Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak,sebenarnya mereka tidak sadar." (Q.S. Al-Mu'minun: 55-6).

Dari ayat ini,orang yang punya keahlian untuk memahami dapat mengambil pengertian,bahwa langkah pertama dalam bersegera menuju kebaikan adalah meminimalkan masalah duniawi dan tidak selalu memikirkan tentang masalah rezeki,menghindar dan lari dari mengumpulkan dunia dan menahan untuk tidak memberikannya kepada orang lain dengan cara memilih lebih sedikit (fakir) daripada melimpah (kaya).Sementara zuhud dalam masalah dunia adalah menjadi kesukaannya.

Selanjutnya Allah menyebutkan orang-orang yang bersegera menuju kebaikan dan menjelaskan sifat mereka dalam firman-Nya;

"Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka." (Q.S. Al-Mu'minun: 57).

Dalam ayat ini Allah menjelaskan,bahwa mereka memiliki sifat sayang (lemah lembut) karena adanya rasa takut (khasyyah) kepada Tuhannya.Kedua sifat ini merupakan sifat batin dan merupakan kegiatan hati nurani.Rasa takut adalah rahasia hati yang sangat samar.Sedangkan rasa belas kasih akibat rasa takut adalah lebih samar daripada rasa takut.

Inilah yang disebut Allah swt.dalam firman-Nya,

"Maka sesungguhnya Dia Maha Mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi." (Q.S. Thaha: 7).

Dikatakan pula, "Bahwa rasa takut adalah kegelisahan hati akibat selalu tegak di Hadirat Allah swt.".

Kemudian setelah tingkatan yang mulia ini dan kondisi spiritual yang tinggi sebagaimana yang dijelaskan sifat oleh Allah swt.dari sifat rasa belas kasih,takut dan sebagainya,maka Allah berfirman;

"Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka." (Q.S. Al-Mu'minun: 58).

Sebelum ada rasa takut dan belas kasih mereka telah beriman lebih dahulu dengan ayat-ayat Allah.Maka bisa diketahui,bahwa yang Dia maksudkan dengan hal itu adalah bertambahnya iman.Apakah Anda tidak melihat,bahwa Dia menerangkan sifat Rasulullah.saw.dengan keimanan setelah Allah lebih dahulu menerangkan dengan kerasulan dan kenabiannya.Ini tercermin dalam firman-Nya:

"Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya,seorang Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-kitab-Nya)." (Q.S. Al-A'raf: 158).

Orang-orang berilmu dan ahli dalam memahami telah berijtihad dan mengambil pengertian dari ayat ini,bahwa bertambahnya keimanan.semua itu tidak ada batas akhirnya.

Kemudian Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan (apa pun) dengan Tuhan mereka." (Q.S. Al-Mu'minun: 59).

Allah menyebutkan,bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Tuhannya,setelah sebelumnya menerangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki rasa takut,belas kasih dan iman.

Orang-orang berilmu yang ahli dalam memahami telah mengambil pengertian dari ayat tersebut dan juga tahu pengertian yang digali dari ayat tersebut,bahwa Allah menyebutkan syirik (menyekutukan Tuhan) dalam ayat tersebut adalah syirik yang samar (syirik khafi),yang selalu memperlihatkan kepada hati nurani untuk melihat ketaatan dan mencari imbalan setelah seseorang sanggup menyaksikan keimanan yang jelas,bahwa tidak ada yang sanggup memberi manfaat atau bahaya,tidak ada yang sanggup memberi dan mencegah selain Allah swt.Pada saat itu,mereka kembali bersemangat dan bersungguh-sungguh.Mereka merendahkan diri dihadapan Allah dan mencari kemurnian dan keselamatan hati mereka dengan kejujuran ikhlas dalam keikhlasan.Mereka pun tahu,bahwa sesuai dengan kadar kemurnian iman masing-masing mereka mampu melihat berbagai syirik dan riya' yang lembut dan sulit dipahami,dimana hal itu lebih lembut dan lebih samar daripada gerakan semut yang merayap di atas batu hitam dalam kegelapan malam yang sangat pekat.

Disebutkan dari Shl bin Abdullah,bahwa ia pernah berkata, "Orang-orang yang bertauhid dengan mengucapkan kalimat La Ilaha illallah adalah cukup banyak,sementara orang yang benar-benar ikhlas dari mereka sangat sedikit."

Sahl bin Abdullah juga mengatakan, "Seluruh dunia adalah bodoh kecuali terdapat keilmuan,sementara seluruh keilmuan akan menjadi argumentasi yang menyudutkan Anda kecuali mengamalkannya,sedangkan beramal seluruhnya akan menjadi hamburan debu yang tak berarti kecuali bagian-bagian yang ada unsur keikhlasan.Dan orang-orang yang memiliki keikhlasan masih dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan."

Kemudian Allah swt.berfirman:

"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan,dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa)sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." (Q.S. Al-Mu'minun: 60).

Dari ayat ini orang-orang yang ahli dalam memahami telah menggali suatu pengertian,bahwa gemetarnya hati mereka karena mendapatkan anugrah Allah untuk bisa bersegera dan bersaing menuju berbagai kondisi spiritual yang telah kami sebutkan.Dimana gemetarnya sama sekali tidak dapat diungkap oleh ilmu apa pun dan tidak seorang makhluk pun yang sanggup memahaminya.Ini adalah ilmu pamungkas.Di mana jauh sebelumnya dalam kegaiban Allah telah menentukan mana diantara mereka yang celaka dan mana yang bahagia.Maka dalam kondisi demikian terputus tali pusat jantung mereka,tercenganglah akal dan pikiran mereka.Ilmu mereka pun hilang dan pemahamannya pun hanyut.Kemudian mereka menghadap kepada Allah swt.dengan sejujurnya untuk mencari perlindungan dan menunjukan kebutuhannya.

Untuk mendukung pembenaran hal itu adalah Hadis yang diriwayatkan dari Aisyah r.a.,bahwa ia pernah beritanya kepada Rasulullah.saw.,;

"Wahai Rasulullah,apa maksud 'Orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan,dengan hati yang takut." (Q.S. Al-Mu'minun: 60). Apakah itu orang yang berzina,mencuri dan minum-minuman terlarang?" Maka Nabi menjawab, 'Bukan,akan tetapi ia adalah orang yang shalat,berpuasa dan bersedekah.Akan tetapi ia takut kalau amalnya tidak diterima'.

Kemudian Nabi membacakan ayat:

"Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan,dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya'." (Q.S. Al-Mu'minun: 61).

Dari ayat ini menunjukkan,bahwa bersegera dan bersaing untuk menuju kebaikan-kebaikan ini akan mendapatkan derajat orang-orang terdepan dan posisi mereka bisa diharapkan.

BAGIAN KEDUA KAUM SUFI DALAM MEMAHAMI DAN MENGIKUTI KITAB ALLAH SWT. (IV). PENJELASAN TENTANG ISTINBATH,MENDENGAR SECARA EKTASE (SAMA') DAN KONSENTRASI DENGAN MERENUNGKAN KETIKA MEMBACA DAN MEMAHAMI SERUAN YANG DI TUJUKAN KEPADA HAMBA

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata: Perlu Anda ketahui,bahwa mendengar secara ekstase dan konsentrasi diri ketika mendengar (khithab) dibedakan tiga macam:

Abu Said al-Kharraz mengatakan sebagaimana yang saya trima darinya, "Tahap awal dalam mengarahkan pendengaran untuk mendengarkan al-Qur'an adalah mendengarnya secara penuh,seakan-akan Nabi saw.membacakannya kepada Anda.Dari tahapan ini kemudian Anda bertahap untuk naik lebih tinggi,sehingga seakan-akan Anda mendengarnya dari Jibril a.s.dan membacakannya kepada Nabi saw.Sebab Allah swt.telah berfirman;

"Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril),ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Q.S. Asy-Syu'ara': 192-4).

Dari tahapan ini kemudian Anda naik ketahapan lebih tinggi lagi,maka seakan-akan Anda mendengarnya dari al-Haq swt.sendiri.Itulah makna firman Allah Azza wa Jalla:

"Dan kami turunkan dari al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Q.S. Al-Isra': 82).

Dan firman-Nya:

"Kitab (al-Qur'an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Q.S. Az-Zumar: 1).

Maka seakan-akan Anda mendengar sendiri dari Allah swt. Demikan halnya dengan firman-Nya,;

"Haa Miim.Diturunkan Kitab ini (al-Qur'an) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui," (Q.S. Ghafir: 1-2).

Jalan keluar untuk bisa memahami ketika Anda mendengar dari Allah swt.adalah ketika berkonsentrasi sepenuh hati (hudhurul-qalb) dan Anda hanyut untuk tidak memikirkan segala kesibukan duniawi dan nafsu Anda dengan kuatnya musyahadah,kejernihan dzikir,memusatkan segala tujuan,beretika dengan baik,menyucikan hati nurani,kejujuran dalam mengaktualisasi,kekuatan dalam berbagai pendukung kejujuran,keluar dari segala kesempitan untuk menuju arena yang sangat luas,konsentrasi dalam bermusyahadah untuk menembus kegaiban dan bersegera untuk bisa "sampai" (wushul) kepada Dzat Yang diingat dengan kegaiban dan dengan Kalam Sang Mahalembut dan Mahatahu.

Penjelasan semua ini adalah diambil dari pengertian dan hasil istinbath (ijtihad) dari firman Allah swt.,;

"Orang-orang yang beriman dengan kegaiban." (Q.S. Al-Baqarah: 3).

Abu Said bin al-A'rabi berkata,"Mereka tenggelam dan hanyut dalam kegaiban.Maka dengan kegaiban mereka beriman pada kegaiban.Dia sekali pun gaib,akan tetapi tidak akan pernah ada keraguan sedikit pun dalam hati mereka."

Allah swt.befirman;

"Maka apakah orang-orang yang menunjukan kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk?" (Q.S. Yunus: 32).

Abu Said al-Karraz _ rahimahullah _ berkata,"Segala apa yang bisa dipahami oleh makhluk dari Allah swt.sebenarnya mereka hanya mampu memahami kegaiban yang ada di luar sifat-sifat hakikat sebenarnya.Ini adalah firman Allah swt.;

"Orang-orang yang beriman dengan kegaiban." (Q.S. Al-Baqarah: 3)

Sementara itu kegaiban adalah mengukuhkan Sifat-sifat dan Asma' Allah yang dihadirkan-Nya dalam hati,dan begitu pula dengan apa yang dijadikan Sifat untuk Diri-Nya dan berita yang disampaikan kepada hamba-Nya.Akhirnya mereka mengukuhkannya sebagai Sifat-sifat.Mereka tidak mengaku bisa memahaminya secara maksimal.Apakah Anda tidak mendengar firman Allah swt. ;

"Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta),ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)-nya,niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah.Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha bijaksana.' (Q.S. Luqman: 27)?

Maka apabila sifat kalam-Nya tidak dapat dipahami dan tidak bisa sampai pada pemahaman secara maksimal,lalu bagaimana hakikat Sifat,Dzat dan Jatidiri-Nya bisa dipahami?"

Oleh karenanya orang-orang berilmu dan memiliki keahlian untuk memahami telah menetapkan,bahwa segala sesuatu yang diisyaratkan oleh orang-orang yang sanggup mengaktualisasikan masalah sebenarnya,orang-orang yang mampu menghayati dengan hati nuraninya,orang-orang arif dan orang-orang yang menauhidkan-Nya.Segala apa yang diungkapkan oleh mereka dan apa saja yang tidak cukup bila diungkapkan dengan kata-kata,tidak bisa diisyaratkan dengan bukti-bukti dan tidak bisa diisyaratkan dengan bahasa isyarat, dari berbagaimacam pengetahuan,perbedaan kondisi,kedudukan dan tingkatan spiritual serta segala hal yang mereka saksikan secara zhahir dan batin,adalah masuk dalam kategori gaib yang telah diterangkan Allah dalam firman-Nya;

"Orang-orang yang beriman dengan kegaiban." (Q.S. Al-Baqarah: 3).

BAGIAN KEDUA KAUM SUFI DALAM MEMAHAMI DAN MENGIKUTI KITAB ALLAH SWT. (III).TINGKATAN PERBEDAAN ORANG-ORANG YANG MENDENGAR SERUAN ALLAH SWT. DAN TINGKAT PENERIMAAN KEREKA.

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata:Orang-orang yang mendengar seruan (khithab) Allah dibedakan menjadi tiga tingkatan:

Pertama, diantara mereka terdapat orang yang mendengar khithab (seruan),sekaligus menerima dan mengikutinya tapi kemudian berpaling dari ayat yang diserukan-Nya - dimana keterangannya sebagian telah kami sebutkan,dan sebagian ayat-ayat yang searti ada yang belum kami sebutkan.Namun ia tidak dapat mengamalkan apa yang ada dalam ayat tersebut dan tidak dapat memanfaatkan pahala yang dijanjikan Allah swt. Ia sibuk dengan urusan duniawi,lupa dengan Tuhannya,mengikuti kemauwan nafsu,lebih memilih kesenangan dari pada melaksanakan kewajiban,mengabulkan ajakan-ajakan musuh (setan) dan cendrung pada perintah nafsu dan kesenangannya.Mereka adalah orang-orang yang sifatnya diterangkan dalam al-Qur'an,dimana Allah melarang mereka dan mencemoohnya dalam firman-Nya:

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawanafsunya sebagai tuhannya,dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakan tutup atas penglihatannya? Maka siapakan yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (memberikannya sesat)." (Q.S. Al-Jatsiyah: 23)

Dan firman-Nya:

"Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami,serta menuruti hawa nafsunya." (Q.S. Al-Kahfi: 28)

Dan firman-Nya,

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf (Q.S. Al-A'raf: 199), "Dijadikan indah pada. (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang menarik,yaitu:wanita-wanita,anak-anak,harta yang banyak dari jenis emas,perak,kuda pilihan,binatang-binatang ternak dan sawah ladang.Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (Q.S. Ali-Imran: 14)

dan
"Katakanlah,'Bolehkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu ?' Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah),pada sisi Tuhan mereka ada surga yang sungai-sungai mengalir di bawahnya; mereka kekal di dalamnya.Dam (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah:Dan Allah maha melihat hamba-hamba-Nya." (Q.S. Ali Imran: 15)

Kedua, orang yang mendengar seruan (khithab),mengabulkannya,bertobat,kembali kepada Allah,berbuat ketaatan,mengaktualisasikan dalam berbagai kondisi spiritual dan tingkatan-tingkatan spiritual,jujur dalam bermuamalah dan memurnikan hanya untuk Allah (ikhlas) dalam berbagai kedudukan spiritual.Mereka adalah orang-orang yang disebutkan Allah swt.dalam Kitab-Nya dan pahala yang dijanjikan-Nya untuk mereka.Maka Allah berfirman,;

"(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat." (Q.S. An-Naml), "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh,bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal," (Q.S. Al-Kahfi: 107)

dan 
"Barangsiapa mengerjakan amal saleh,baik laki-laki maupun perempuan,sementara ia beriman,maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Q.S. An-Nahl: 97)

Para ulama mengatakan,bahwa "kehidupan mulia" dalam ayat tersebut adalah ridha dan hanya merasa puas dengan Allah Azza wa Jalla.

Selanjutnya Allah swt.berfirman,;

"Sesungguh beruntung orang-orang yang beriman,(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya,dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna." (Q.S. Al-Mu'minun: 1-3).

Amr al-Makki berkata, "Segala sesuatu selain Allah swt.yang terbersit di dalam hati adalah sia-sia dan tidak bermanfaat."

Kemudian Allah swt.memberitahu tentang orang-orang yang menauhidkan Allah dan berpaling dari segala sesuatu selain Allah,;

"Mereka itu orang-orang yang akan mewarisi,(yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus.Mereka kekal di dalamnya." (Q.S. Al-Mu'minun: 10-11)

Allah banyak menyebut meraka dalam al-Qur'an,dan mengunggulkannya daripada yang lain dengan menyebut mereka dan menjadikan pahala yang sangat besar untuknya.

Ketiga, adalah orang-orang yang disebut Allah swt.dan ini merupakan kemuliaan yang diberikan Allah kepada mereka.Mereka dinisbatkan kepada keilmuan dan rasatakut yang ada dalam hati mereka.Maka Allah swt.berfirman:

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambanya-Nya,hanyalah ulama." (Q.S. Fathir: 28). "Dan orang-orang yang berilmu yang menegakkan keadilan." (Q.S. Ali Imran: 18).

dan
"Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (Q.S. Az-Zumar: 9).

Kemudian Allah lebih mengkhususkan sekelompok kaum dari mereka dengan firman-Nya,;

"Dan orang-orang yang mendalam ilmunya." (Q.S. Ali Imran: 7).

Ini merupakan kelebihan yang diberikan kepada mereka dengan sifat-sifat yang dimiliki.

Abu Bakar al-Wasithi mengatakan, "Orang-orang yang keilmuannya kuat dan mendalam adalah mereka yang tertancap kuat dengan jiwanya dalam kegaiban hal yang gaib dan dalam rahasianya rahasia.Lalu Allah member tahu mereka apa yang merka ketahui.Dia menginginkan sebagian dari mereka - sesuai dengan ayat tersebut - apa yang. tidak Dia inginkan untuk yang lain.Mereka bisa menyelami kedalaman lautan ilmu dengan paham untuk mencari tambahan.Akhirnya sanggup mengungkap tumpukan-tumpukan berbagai simpanan rahasia dibalik setiap huruf dan ayat dari pemahaman dan keajaiban nash. Mereka snggup mengeluarkan mutiara dan permata,akhirnya mampu berbicara dengan berbagai hikmah."

Di antara kelompok ini terdapat orang yang melihat lautan hanya ibarat setetes ludah bila dibandingkan ketika menyaksikan berbagai ilmu rahasia yang dikhususkan Allah swt.dimana Dia mengkhususkannya untuk para nabi,para wali dan orang-orang pilihan-Nya.Ketika dalam kejernihan berdzikir dan berkonsentrasi diri,ia menyelami dengan rahasia hatinya kedalam relung kedalaman samudra paham.Akhirnya mendapatkan mutiara yang sangat berharga,dimana ia merupakan ilmu berbagai sumber pembicaraan tentang "dari mana ", lalu mendapatkan pada kenyataan.Dimana pada akhirnya ia menjadi orang yang paling tidak butuh mencari.

Ini penjelasan tentang pembicaraan al-Wasithi tentang apa yang telah kami sebutkan.Sedangkan apa yang dibicarakan oleh al-Wasithi tersebut adalah berasal dari Abu Said al-Kharraz yang searti dengan itu.

Abu Said berkata,"Pertama kali untuk memahami Kitab Allah Azza wa Jalla adalah mengamalkannya.Sebab di dalamnya terdapat keilmuan,pemahaman dan penggalian hukum (istinbath).Sementara itu pemahaman pertama kali adalah sama' (mendengar dengan akstase) dan menyaksikan dengan kedekatan hati (musyahadah).Sebab Allahswt.berfirman:

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya,sedang dia menyaksikannya." (Q.S. Qaf: 37).

Dan firman-Nya:

Sementara itu seluruh al-Qur'an adalah baik.Sedangkan makna,"mengikuti apa yang terbaik adalah tersingkapnya hati nurani untuk memahami berbagai keajaiban ketika berusaha mendengar dan kemudian ekstase dari cara memahami dan menggali hukum.

BAGIAN KEDUA )KAUM SUFI DALAM MEMAHAMI DAN MENGIKUTI KITAB ALLAH SWT. .(II).KEKHUSUSAN DAKWAH DAN ASPEK PILIHAN

Sahl bin Abdullah berkata,"Dakwah adalah bersifat umum,sementara hidayah (petunjuk) adalah bersifat khusus." Kemudian ia memberi isyarat dengan firman Allah swt. ;

"Allah mengajak (manusia) ke Darussalam (surga),dan memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)". (Q.s. Yunus:25)

Dakwah itu untuk umum sedangkan hidayah khusus untuk mereka yang diberi kelebihan.Sebab masalah kehendak dalam hal hidayah adalah terpulang pada Kehendak-Nya.Maka orang-orang yang dipilih dan dicintainya bukanlah orang-orang yang Dia ajak.

Allah swt.telah banyak menyebutkan tentang masalah hamba-hamba yang menjadi pilihan-Nya pada beberapa tempat (ayat) dalam Kitab-Nya.Salah satunya adalah firman-Nya:

"Katakanlah,'Segala puji bagi Allah dan kesejahtraan atas hamba-hamba-Nya yang Dia pilih.Apakah Allah yang lebih baik,ataukah apa yang mereka persekutukan-Nya.'?" (Q.s. An-Naml: 59).

Dalam ayat tersebut Allah memberi isyarat dengan kedamaian dan keselamatan kepada hamba-hamba yang menjadi pilihan-Nya.Sementara Dia tidak menerangkan siapa dan bagaimana mereka?

Allah tidak saja memberi isyarat dengan itu saja.Akan tetapi lebih lanjut Dia berfirman dalam ayat lain:

"Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia;sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi maha melihat." (Q.s. Al-Hajj: 75)

Para ahli tafsir memberikan interpretasi tentang kata [waminan-nasi] (dan diantara umat manusia,) dan ayat tersebut adalah para Nabi.Andakan Allah hanya berhenti pada ayat ini saja,tentu akan ada oda orang yang mengatakan,bahwa orang-orang yang menjadi pilihan-Nya hanyalah para Nabi.Akan tetapi pada ayat lain Dia berfirman:

"Kemudiat Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami,lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri,dan diantara mereka ada yang pertengahan,dan diantara mereka ada (pula) yang terdepan dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah." (Q.s. Fathir: 32).

Maka Allah membedakan antara pilihan yang disebutkan untuk para rasul a.s.dengan pilihan yang disebutkan untuk para hamba-Nya yang mewarisi al-Kitab,dimana mereka adalah orang-orang mukmin.Kemudian lebih lanjut Allah menjelaskan tentang kesenjangan kondisi spiritual yang terjadi antara mereka dengan Allah swt.,"Maka diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri..." Sehingga masalah pilihan Allah ini terjadi pada dua aspek:

Pilihan dari para nabi a.s.,dimana mereka mendapatkan perlindungan,terjaga dari maksiat ('issmah),dukungan secara penuh,wahyu dan menyampaikan risalah (kerasulan).Di sisi lain adalah pilihan dari orang-orang mukmin,dimana mereka dipilih dengan mendapatkan jernihnya muamalah,baik dalam perjuangan spiritual,korelasi yang cukup erat dengan masalah hakikat dan tingkatan-tingkatan spiritual.

Kemudian Allah swt.berfirman:

"Untuk tiap-tiap umat diantara kalian,Kami berikan aturan dan jalan yang terang.Sekiranya Allah menghendaki,niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja),tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepadamu,maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan." (Q.s. Al-Ma'idah: 48)

Maka Allah memerintah untuk saling berlomba dan bersegera melakukan kebaikan secara global.Sementara itu Allah tidak menjelaskan secara rinci tentang kebaikan apa yang mereka diperintahkan untuk saling berlomba dan bergegas melakukannya.Tapi kemudian Allah merinci dan menjelaskan pada beberapa tempat,misalnya,;

"Sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa" (Q.s. Al-Baqarah: 2),

"Dan hanya kepada-Ku kalian harus bertakwa." (Q.s. Al-Baqarah: 41),

"Menjadi pelajaran (nasihat) bagi orang-orang yang bertakwa." (Q.s. Al-Baqarah: 66),

"Dan hanya kepada-Ku kalian harus takut (tunduk)". (Q.s. Al-Baqarah: 40)

"Oleh karenanya,jangan kalian takut pada mereka,tetapi takutlah kepada-Ku." (Q.s. Ali Imran: 175).

"Maka janganlah kamu,takut kepada mereka dan takutla kepada-Ku." (Q.s. Al-Baqarah: 150)

"Karena itu,ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula (pula) kepadamu." (Q.s. Al-baqarah: 152)

"Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal,jika kamu benar-benar orang yang beriman." (al-Ma'idah: 23).

"Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya)." (Q.s. Al-Ma'idah: 92).

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami,benar-benar akan Kami tunjukan mereka ke jalan-jalan Kami." (Q.s. Al-'Ankabut: 69),

"Dan barangsiapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri." (Q.s. An-Naml: 40)

"Allah menyukai orang-orang yang sabar." (Q.s. Ali Imran: 146),

"Padahal mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Allah dengan dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (Q.s. Al-Bayyinah: 5)

dan
"Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah". (Q.s. Al-Ahzab: 23).

Kemudian Allah swt.menyebutkan kaum laki-laki dan perempuan yang tunduk,kaum laki-laki dan perempuan yang jujur,yang sabar dan yang khusyu'.

Dia juga menyebutkan dalam beberapa ayat al-Qur'an tentang tobat,inabah (kembali kepada-Nya),berserah diri ridha, tunduk dan pasrah pada kehendak-Nya (qana'ah) dan tidak memilih sesuai keinginannya.

Kemudian Allah berfirman,;

"Katakanlah, 'Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.'" (Q.s. An-Nisa': 77)

"Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (Q.S. Ali Imran: 14)

"Dan kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka." (Q.S. Al-An'am: 32)

kemudian Dia berfirman,
"Barang siapa menghendaki keuntungan diakhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barang siapa menghendaki Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun diakhirat." (Q.S. Asy-Syura: 20)

Kemudian Allah menyebutkan tentang syetan,lalu Dia berfirman,;

"Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu,maka anggaplah ia musuh (mu)." (Q.S. Fathir: 6). "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya,dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakan tutup atas penglihatannya?" (Q.S. Al-Jatsiyah: 23)

dan firman-Nya,
"Adapun orang yang melampaui batas,dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya". (Q.S. An-Nazi'at: 27-9).

Dan ayat-ayat lain yang sepadan dengan ayat tersebut,dimana Allah menganjurkan kepada makhluk-Nya untuk bersegera dan bersaing dalam mengamalkan dan berakhlak dengan ayat-ayat tersebut.Sementara itu masalah jujur dan ikhlas cukup banyak disebutkan.Orang-orang mukmin dalam menerima dan menanggapi ayat-ayat tersebut adalah sama,namun dalam merealisasikan dan menempuh hakikatnya sangat variatif.Akan tetapi seluruhnya tetap mendapatkan seruan yang sama.

Mereka dalam hal ini dibedakan menjadi tiga tingkatan:

Minggu, 02 Maret 2014

BAGIAN KEDUA KAUM SUFI DALAM MEMAHAMI DAN MENGIKUTI KITAB ALLAH SWT. (I).KECOCOKAN DENGAN KITAB ALLAH SWT.

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -- rahimahullah -- berkata;Allah swt.berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ

"Dialah Dzat Yang menurunkan Kitab kepadamu.Diantara ayat-ayat yang ada dalam Kitab tersebut ada sebagian ayat-ayat Muhkamat,dimana ayat tersebut merupakan induk al-Kitab (ummul-Kitab),sementara ada ayat lain yang Mutasyabihat." (Q.s. Ali Imran: 7).

Dan firman-Nya:

"Dan Kami turunkan dari al-Qur'ancaman suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Q.s. Al-Qamar).

Nabi saw.bersabda:

"Al-Qura'an adalah Tali hubungan Allah yang sangat kuat,dimana keajaibannya tidak pernah habis,tidak pernah usang sekalipun sering diulang-ulang.Barangsiapa berkata dengannya maka ia akan benar dan jujur,barangsiapa mengamalkannya ia akan mendapatkan jalan yang lurus,barangsiapa menghukumi dengannya ia akan berbuat adil,dan barang siapa berpegang teguh dengannya ia akan bisa memberikan petunjuk." (H.r. Tirmidzi dan al-Harist dari Ali r.a.).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud r.a.,ia berkata, "Barang siapa menginginkan ilmu,maka hendaknya membahas dan mempelajari makna al-Qur'an.Sebab didalamnya terdapat ilmu para pendahulu dan terakhir." Allah swt.telah berfirman:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ*لَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

"Alif Lam Mim,Kitab (al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya;petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib." (Q.s. Al-Baqarah: 1-3).

Orang-orang berilmu tahu betul akan makna khithab ini,bahwa di dalam Kitab Allah,al-Qur'an yang diturunkan kepada Rasul-Nya saw.ini tak seorang pun dari orang-orang yang beriman meragukan,bahwa Kitab ini berasal dari sisi Allah swt.yang akan menjelaskan seluruh persoalan agama yang dianggap musykil setelah mereka beriman dengan hal-hal yang gaib,yaitu dengan membenarkan apa yang diberitahukan Allah kepada mereka tentang hal-hal yang gaib.

Kemudian di ayat yang lain Allah swt.berfirman;

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

"Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri". (Q.s. An-Nahl: 89).

Ayat ini memberikan pengertian kepada orang-orang berilmu yang sanggup memahami dan setelah mereka beriman dengan hal-hal yang gaib,bahwa dibalik setiap huruf al-Qur'an banyak terdapat pemahaman yang masih tersimpan bagi orang yang ahli sesuai dengan kadar yang dibagikan kepada mereka.mereka berpendapat demikian dengan argumentasi ayat-ayat al-Qur'an.Misalnya firman Allah swt.;

"Tidaklah Kami lupakan sesuatu pun dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (Q.s. Al-An'am: 38).

Dan firman-Nya pula:

مَّا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya;dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu." (Q.s. Al-Hijr: 21).

Mereka mengemukakan makna firman Allah Azza wa Jalla,[min-syai-in] yang maknanya adalah dari sesuatu tentang ilmu agama dan ilmu kondisi spiritual antara makhluk dengan Allah swt.dan lain-lain.

Dalam ayat lain Allah swt.berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

"Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus." (Q.s. Al-Isra': 9).

Maksudnya adalah menunjukan kepada sesuatu yang lebih tepat dan benar.Sehingga orang-orang berilmu yang sanggup memahami akan tahu,bahwa tidak ada cara lain untuk bisa mencapai pada kebenaran dari apa yang ditunjukan al-Qur'an kecuali dengan cara merenungkan,berpikir,berkontemplasi dengan penuh kesadaran,mengingat dan konsentrasi penuh ketika sedang membacanya.Mereka tahu akan hal itu dari firman Allah swt.;

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran." (Q.s. Al-Isra':9)

"Dari ayat ini mereka mengambil pengertian,bahwa merenungkan,berpikir dan berkontemplasi penuh kesadaran tidak akan bisa dilakukan kecuali dengan penuh konsentrasi hati nurani.Sebab Allah swt.telah menyatakan:

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya,sedang dia menyaksikannya." (Q.s. Qaf: 37)

Allah tidak hanya menyebutkan ayat itu saja,Dia juga menyebutkan tentang hati nurani di ayat lain:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ* إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

"(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak bermanfaat lagi,kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Q.s. Asy-Ash-Shu`arā': 88-9).

Dan tidak cukup dengan itu saja,sehingga Allah mengangkat seorang Iman untuk makhluk dalam hati yang bersih dan suci (qalb salim).Allah swt.berfirman:

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ* إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci." (Q.s. Ash-Shaffat: 83-4).

Orang-orang berilmu yang sanggup memahami hakikat mengatakan,bahwa hati yang bersih dan selamat adalah hati yang didalamnya tidak ada yang lain selain Allah Azza wa Jalla.

Sahl bin Abdullah berkata, "Andaikan seorang hamba diberi Allah kemampuan untuk memahami setiap huruf al-Qur'an dengan seribu kepahaman,niscaya ia belum bisa memahami secara maksimal tentang apa yang dijadikan Allah dalam ayat Kitab Allah swt.Sebab al-Qur'an adalah Kalam Allah swt.Sementara kalamnya adalah sifat-Nya.

Sebagaimana Allah tidak dibatasi,maka demikian halnya dengan firman-Nya juga tidak ada batas maksimal untuk memahaminya.Mereka hanya mampu memahami sesuai dengan kadar yang dibukakan Allah dalam hati nurani para wali (kekasih)-Nya untuk memahami firman-Nya.Sedangkan firman Allah bukanlah makhluk,maka daya intelektual makhluk tidak akan sanggup memahaminya secara maksimal,sebab daya intelektual mereka adalah barang baru yang merupakan ciptaan (makhluk)-Nya.

Sementara itu Allah swt.telah menyebutkan tentang petunjuk

هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

"Sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa." (Q.s. Al-Baqarah: 2).